ariririta.com

Kamis, 09 April 2015

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU & PROBLEM SOSIAL


SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU
&
PROBLEM SOSIAL


O l e h  :
STEPHIANA ARI RITA
NIM : 09.3412
NIRM : 09.1421.1665.R

Program Studi Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik




SEKOLAH TINGGI PASTORAL-IPI MALANG 

 

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU
1.    Definisi Sosiologi
Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan.  Pada  umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya.
Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial.

Definisi Sosiologi menurut para ahli:
a)      Pitirim Sorokim, mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari :
š Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala gejala sosial.
š Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala non sosial.
š Ciri-ciri umum daripada semua jenis gejala gejala social
b)      Roucek Dan Warren,  mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok kelompok
c)      C. William F Ogburn Danmeyer F Ninghof, menyatakan bahwa sosiologi adalahpenelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial.
d)     JAA Van Dorn dan LJ. Lammers, berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
e)      Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi, menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial

2.    Pokok Bahasan Sosiologi
Pokok bahasan dari sosiologi ada 4 yaitu:
1.    Fakta sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut.
2.    Tindakan sosial sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain.
3.    Khayalan sosiologis merupakan cara untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah permasalahan (troubles) dan issues (isu). Troubles merupakan permasalahan pribadi individu dan menjadi ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Issues merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu.
4.    Realitas sosial adalah penungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.

3.    Ciri-Ciri dari Sosiologi
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang objeknya adalah masyarakat. Ciri-ciri sosiologi sebagai ilmu adalah
1.    Sosiologi bersifat empiris
yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut di dasarkan pada  observasi terhadap kenyataan  dan akal sehat, serta hasilnya tidak  bersifat spekulatif (menduga-duga)
2.    Sosiologi bersifat teoritis
yaitu ilmu pengatahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi  dari hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka daripada unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat, sehingga menjadi teori
3.    Sosiologi bersifat komulatif
yang berarti bahwa teori soiologi dibentuk atas dasar  teori teori yang sdh ada dalam arti memperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori -teori yang lama
4.    Bersifat non-etis
yakni yang dipersoalkan bukanlah baik buruknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.

4.    Hakikat Dari Sosiologi
Sifat Hakekat Sosiologi
1.      Sosiologi adalah ilmu sosial
2.      Sosiologi bukan  disiplin yang normatif, melainkan  disiplin yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini, dan bukan apa yang akan terjadi atau seharusnya terjadi.
3.      Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni (pure science) dan bukan ilmu pengetahuan terapan (applied science).
4.      Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang abstrak & bukan ilmu pengerahuan yang konkrit. Artinya bahwa yang diperhatikan adalah bentuk bentuk dan pola pola peristiwa dlm masyarakat dan bukan wujudnya yang konkrit.
5.      Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian pengertian dan pola pola umum.

5.    Kegunaan dari Sosiologi
1.    Untuk pembangunan, sosiologi berguna untuk memberikan data-data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan maupun penilaian pembangunan (menyangkut apa yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat secara luas, misalnya mengenai permasalahan yang terjadi dalam bidang politik (korupsi), ekonomi (kemiskinan)
2.    Untuk penelitian, tanpa penelitian dan penyelidikan sosiologis tidak akan diperoleh perencanaan sosial yang efektif atau pemecahan masalah-masalah sosial dengan baik

6.    Obyek Sosiologi
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan mempunyai beberapa objek.
Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala-gejala dan proses hubungan antara manusia yang memengaruhi kesatuan manusia itu sendiri.
Objek formal sosiologi lebih ditekankan pada manusia sebagai makhluk sosial atau masyarakat. Dengan demikian objek formal sosiologi adalah hubungan manusia antara manusia serta proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.
Objek budaya salah satu faktor yang dapat memengaruhi hubungan satu dengan yang lain.
š Objek Agama: Pengaruh dari objek dari agama ini dapat menjadi pemicu dalam hubungan sosial masyarakat, dan banyak juga hal-hal ataupun dampak yang memengaruhi hubungan manusia.
PROBLEM SOSIAL
1.    Pengertian masalah sosial
Masalah sosial dalam perspektif sosiologis sering disebut sebagai problem sosial (social problems). Dari beragam pengertian tentang masalah sosial, Coleman, J.W and Cressey, D.R. (1984) menyimpulkan bahwa suatu fenomena atau gejala kehidupan dikatakan sebagai masalah sosial (social problems) adalah apabila:
(1) sesuatu yang dilakukan seseorang itu telah melanggar atau tidak sesuai dengan nilai-norma yang dijunjung tinggi oleh kelompok;
(2) sesuatu yang dilakukan individu atau kelompok itu telah menyebabkan terjadinya disintegrasi kehidupan dalam kelompok; dan
(3) sesuatu yang dilakukan inidividu atau kelompok itu telah memunculkan kegelisahan, ketidakbahagiaan individu lain dalam kelompok.

2.    Problem Sosial Merupakan Hasil dari Proses Perkembangan Masyarakat
Problem sosial merupakan hasil dari proses perkembangan masyarakat artinya problem tersebut timbul akibat adanya ketidak inginan masyarakat akan hambatan-hambatan dari penemuan baru (perkembangan). Penemuan baru bermanfaat namun selama proses penyesuaian diri dengan perubahan-perubahan tersebut terjadi goncangan yang menyebabkan problem sosial.

3.    Klarifikasi Problem Sosial Dan Sebab-Sebabnya
1.    Problem sosial timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia yang bersumber pada faktor ekonomis, biologis, biopsikologis, dan kebudayaan. Penyimpangan terhadap norma yang ada dalam masyarakat termasuk dalam problem sosial. Sesuai dengan sumbernya maka problem sosial dapat diklasifikasikan dalam 4 kategori pertama yaitu:
-          Faktor ekonomis antara lain kemiskinan, pengangguran, dsb.
-          Faktor biologis: penyakit
-          Faktor psikologis: NEUROSIS (SARAF), bunuh diri, disorganisasi jiwa,
-          Faktor kebudayaan: perceraian, konflik rasial, konflik agama
2.    Kategori kedua mencakup persoalan-persoalan penduduk seperti bertambah dan berkurangnya penduduk.

4.    Masalah Sosial dalam Perspektif Teoritis
(1)   teori fungsional struktural;
sesuatu fenomena sosial dikatakan sebagai masalah (problem) sosial apabila: (a) sesuatu itu bertentangan dengan budaya sebagai sistem simbol yang dijadikan sebagai orientasi untuk berpola perilaku; (b) sesuatu itu menyebabkan terjadinya disintegrasi atau memudarkan jalinan antar unsur dalam suatu sistem; (c) perubahan sosial yang terjadi bersifat revolusioner akan menghasilkan ketidakseimbangan dalam sistem sosial.
(2)   teori konflik;
fenomena sosial dikatakan sebagai masalah (problem) sosial apabila: (a) sesuatu itu tidak sesuai dengan kebijakan otoritas penguasa yang berfungsi untuk mempertahankan ketertiban masyarakat; (b) otoritas aktor (individu) tidak tunduk pada kontrol yang ditentukan oleh masyarakat; dan (c) perubahan sosial yang terjadi bersifat evolusi, sehingga kurang menciptakan dinamika kehidupan sosial.


(3)   teori interaksionis simbolik.
sesuatu fenomena sosial dikatakan sebagai masalah (problem) sosial apabila: (a) sesuatu itu tidak didasarkan pada pandangan, motivasi, tujuan yang ada pada Diri, Jiwa dan Pikiran individu dari proses menangkap simbol-simbol dalam interaksi; dan (b) sesuatu itu hasil dari tekanan struktural (kekuatan eksternal) yang bersifat statis.

5.    Beragam Masalah Sosial Dalam Pembangunan
1)      Masalah Kemiskinan
Macam-macam kemiskinan:
(1)   kemiskinan absolut (a fixed yardstick). Konsep kemiskinan absolut ini dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu yang kongkit. Ukuran ini lazimnya berorientasi pada kebutuhan dasar dalam kehidupan sehari-hari, yaitu pangan, papan dan sandang.;
(2)   kemiskinan relatif (the idea of relative). Konsep kemiskinan relatif ini dirumuskan berdasarkan atau memperhatikan dimensi tempat dan waktu. Asumsi ini, bahwa kemiskinan di daerah satu dengan daerah lain tidak sama, demikian juga antara waktu dulu dengan sekarang berbeda;
(3)   kemiskinan subjektif. Konsep kemiskinan sbjektif ini dirumuskan berdasarkan perasaan individu atau kelompok miskin. Kita menilai individu atau kelompok tertentu miskin, tetapi kelompok yang kita nilai menganggap bahwa dirinya bukan miskin, atau sebaliknya. Konsep kemiskinan ketiga inilah yang lebih tepat apabila memahami konsep kemiskinan dan bagaimana langkah strategis dalam menangani kemiskinan
Penyebab kemiskinan:
a)         Perspektif kultural. Konsep kemiskinan dalam perspektif kultural dikelompokkan menjadi tiga tingkatan analisis, yaitu: (1) tingkatan individu, hal ini berarti kemiskinan karena mentalitas individu yang malas, apatis, fatalistik, pasrah, boros, dan tergantung (mentalitas negatif); (2) tingkatan keluarga, hal ini berarti kemiskinan karena jumlah anak dalam keluarga sangat besar, dengan pola budaya keluarga yang tidak produktif; dan (3) tingkatan masyarakat, hal ini berarti kemiskinan kerena tidak terintegrasinya kaum miskin dengan institusi-institusi masyarakat secara efektif.
b)        Perspektif structural, Konsep kemiskinan dalam perspektif struktural adalah kemiskinan yang terjadi karena dampak dari faktor-faktor struktur masyarakat (faktor eksternal), yaitu terjadinya kemiskinan karena:
(1) program atau perencanaan pembangunan yang tidak tepat;
(2) pelaksanaan kekuasan pemerintahan (birokrasi pemerintah) yang korup;
(3) kehidupan sosial-politik yang tidak demokratis atau otoriter;
(4) sistem ekonomi liberalistik atau kapitalistik;
Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan dalam menanggulangi kemiskinan antara lain:
a)      menyusun perencanaan pembangunan yang tepat dan integral;
b)      melaksanakan program pembangunan di segala bidang, yang berbasis kerakyatan;
c)      meningkatkan kualitas layanan pendidikan secara maksimal sesuai dengan amanat UUD 1945;
d)     menegakkan kepastian hukum dan berkeadilan; dan
e)      meningkatkan peran serta lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan media massa dalam proses pembangunan

2)      Masalah kenakalan remaja atau perilaku menyimpang remaja
perilaku menyimpang remaja adalah semua bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Macam-macam perilaku menyimpang remaja antara lain:
a)      tawuran antar pelajar;
b)      penyimpangan seksual meliputi homoseksual, lesbianisme, dan hubungan seksual sebelum nikah;
c)      alkoholisme;
d)     penyalahgunaan obat terlarang atau narkotika;
e)      kebut-kebutan di jalan raya;
f)       pencurian atau penipuan, dan bentuk-bentuk tindakan kriminalitas lainnya
Faktor-faktor penyebab terbentuknya perilaku menyimpang remaja, antara lain:
a)        ketidaksanggupan menyerap norma budaya;
b)        adanya ikatan sosial yang berlainan dengan yang dimiliki;
c)        akibat proses sosialisasi nilai-nilai subkebudayaan menyimpang;
d)       akibat kegagalan dalam proses sosialisasi;
e)        sikap mental yang tidak sehat;
f)         keluarga yang broken home atau keluarga yang disintegrasi;
g)        pelampiasan rasa kecewa yang berlebihan;
h)        dorongan yang berlebihan untuk dipuji;
i)          proses belajar yang menyimpang;
j)          dorongan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang salah; dan
k)        pengaruh lingkungan dan media masa yang negative.
Diantara langkah strategis untuk meminimalkan terjadinya kenakalan remaja antara lain:
a)      menciptakan kehidupan rumah tangga yang beragama (menunjung tinggi nilai spiritual);
b)      menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis (hubungan antara ayah, ibu dan anak terjalin dengan baik);
c)      mewujudkan kesamaan nilai, norma yang dipegang antara ayah dan ibu dalam mendidik anak;
d)     memberikan kasih sayang secara wajar atau proporsional (tidak memanjakan anak);
e)      memberikan perhatian secara proporsional terhadap beragam kebutuhan anak;
f)       memberikan pengawasan secara wajar atau proporsional terhadap pergaulan anak di lingkungan masyarakat atau teman bermainnya; dan
g)      memberikan contoh tauladan yang terbaik pada anak, dan setiap pemberian layanan pada anak diarahkan pada upaya membentuk karakter atau mentalitas positif

3)      Masalah Generasi Muda Dalam Masyarakat Modern
Penyebab:
Generasi muda memiliki dua ciri yang saling berlawanan yakni keinginan untuk melawan dan sikap apatis (tidak peduli, masa bodoh). Sikap melawan biasanya disertai rasa takut bahwa masyarakat akan hancur karena perbuatan menyimpangnya. Sedangkan sikap apatis disertai dengan rasa kecewa terhadap masyarakat.

Problem yang dihadapi:
-            Persoalan “sense of value” yang kurang ditanamkan oleh orangtua terutama yang menjadi warga lapisan yang tinggi dalam masyarakat;
-            Timbulnya organisasi-organisasi pemuda yang informil, yang tingkah lakunya tidak disukai oleh masyarakat;
-            Timbulnya usaha-usaha generasi muda yang bertujuan untuk mengadakan perbuatan dalam masyarakt yang disesuaikan dengan youth values

4)      Masalah Lingkungan Hidup
Masalah-masalah lingkungan hidup:
a)      tingkat kualitas kesehatan masyarakat semakin terancam;
b)      kualitas kesuburan tanah dan ekosistem lingkungan fisik terancam;
c)      kualitas air sebagai sumber kehidupan semakin tercemar;
d)     terjadinya pencemaran udara, karena polusi industri, dan sebagainya
Penyebab:
a)      pertumbuhan penduduk yang pesat dan mengakibatkan meningkatnya permintaan akan makanan, energi dan beberapa kebutuhan lainnya;
b)      konsentrasi penduduk di daerah perkotaan (urbanisasi) menyebabkan munculnya beragam limbah yang dapat merusak ekosistem;
c)      proses pembangunan dan modernisasi yang meningkatkan pengunaan tekbologi modern yang bersifat konsumerisme dan mengabaikan keselamatan
lingkungan; dan
d)     aktivitas dan mekanisme pasar, bekerja tanpa pertimbangan keselamatan atau kelestarian lingkungan hidup.
Cara menanggulangi:
a)        menerapkan sistem hukum secara tegas dan berkeadilan terhadap setiap pelaku penceramaran lingkungan;
b)        melakukan gerakan perlawanan terhadap pencemaran lingkungan hidup pada semua lapiran masyarakat, misalnya gerakan reboisasi, menjalankan konservasi, dan melakukan daur ulang;
c)        melakukan kontrol dan pengendalian terhadap pertumbuhan penduduk;
d)       melakukan inovasi teknologi, yaitu teknologi yang ramah lingkungan;
e)        membudayakan gaya hidup masyarakat yang konsumeris dan mekanis (orientasi kekinian) berubah pada orientasi hidup pada kelangsungan generasi mendatang (orientasi masa depan); dan
f)         mengembangkan pendidikan kelestarian lingkungan di setiap jenjang pendidikan

5)      Masalah Kriminalitas
Contoh tindakan kriminal adalah: korupsi, pencurian, pembunuhan, perampokan, penipuan atau pemalsuan, penculikan, perkosaan, sindikat narkotik atau penyalahgunaan obat terlarang.

Hal-hal yang mendorong terjadinya perilaku menyimpang dalam bentuk tindakan kriminal antara lain:
a)      terjadinya perubahan sosial, politik, ekonomi yang bersifat revolusi, misalnya terjadi peperangan;
b)      terjadinya kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat yang begitu besar, sebagai akibat kesalahan strategi atau perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan;
c)      adanya peluang atau kesempatan untuk terjadinya tindakan kriminal, karena alat-alat penegak hukum tidak tegas atau tidak ada kepastian hukum di masyarakat;
d)     pemerintah yang lemah (tidak bersih) dan aparat pemerintah yang korup, atau banyak muncul penjahat kerah putih (white collar crime) di setiap departemen pemerintah atau lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga ekonomi;
e)      meningkatnya jumlah penduduk yang tidak terkendali, sehingga jumlah pengangguran dan urbanisasi meningkat;
f)       kondisi kehidupan keluarga yang disintegratif; dan
g)      berkembangnya sikap mental negatif, misalnya: hedonistis, konsumersitis, suka menempuh jalan pintas dalam meraih tujuan dan sejenisnya.

Pendekatan atau metode yang dapat ditempuh untuk mencegah terjadinya tindakan kriminal adalah:
a)      metode preventif, yaitu cara pencegahan melalui pemberian informasi (penyuluhan), pendidikan, pelaksanaan program pembangunan yang benar;
b)      metode represif, yaitu cara pencegahan melalui pemberian hukuman, penangkapan dan pemenjaraan sampai pada penembakan.

6)      Masalah aksi protes, pergolakan daerah, dan pelanggaran HAM
Diantara sebab terjadinya  aksi protes, pergolakan daerah dan pelanggaran HAM, antara lain:
a)      terjadinya dominasi mayoritas kepada minoritas disertai dengan tindakan sewenang-wenang dalam berbagai aspek kehidupan; atau adanya pemaksaan kehendak antar kelompok di masyarakat;
b)      terjadinya kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat yang sangat tinggi;
c)      terjadinya perebutan antar kelompok di masyarakat tentang sumber-sumber mata pencaharian hidup;
d)     adanya pemaksaan ideologi kelompok satu kepada kelompok lainnya (berkembangnya sikap eksklusifisme/ primordialisme); dan
e)      adanya tradisi masa lalu sebagai warisan sejarah tentang konflik antar kelompok atau antar ethnik.

Ada beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan dalam proses pembangunan masyarakat Indonesia, untuk meminimalkan terjadinya aksi protes, demonstrasi, tindak kriminal, dan pelanggaran HAM, antara lain:
a)      merumuskan pokok-pokok kebijakan pembangunan masyarakat, antara lain:
b)      pembangunan harus memihak rakyat, dinamis-berkelanjutan, menyeluruh, terpadu dan terkoordinasikan;
c)      pembangunan harus memanfaatkan secara baik sumber daya masyarakat dan meningkatan partisipasi peran masyarakatnya;

6.    Perencanaan Sosial
Perlunya perencanaan sosial:
Perencanaan merupakan salah satu usaha manusia untuk melihat jauh ke depan. Perencanaan sosial dari sudut sosiologi merupakan alat untuk mendapatkan perkembangan sosial yaitu dnegan jalan menguasai serta memanfaatkan kekuatan alam dan sosial serta menciptakan tata tertib sosial. Selain itu perencanaan sosial berrtujuan untuk menghilangkan atau membatasi keterbelakangan unsur kebudayaan materiil atau teknologi karena problem disebabkan oleh hal tsb.

Persyaratan agar perencanaan sosial efektif:
1.    Adanya unsur modern dalam masyarakat yang mencakup suatu sitem ekonomi, dimana telah dipergunakan uang, urbanisasi teratur, intelegensia di bidang teknik, dan ilmu pengetahuan, dan suatu sistem administrasi yang baik.
2.    Adanya sistem pengumpulan keterangn dan analisa yang baik.
3.    Terdapat sikap publik yang baik terhadap usaha-usaha perencanaan sosial tsb.
4.    Adanya pimpinan ekonomis dan politik yang pogresif.
5.    Adanya organisasi yang baik.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar