ariririta.com

Kamis, 09 April 2015

MORAL DEKALOG -FIRMAN IV&V




Kesepuluh firman menyatakan kasih kepada Allah dan sesama. Tiga firman yang pertama terutama yang berhubungan dengan kasih kepada Allah, tujuh yang lain berhubungan dengan kasih kepada sesama. “Seperti kasih mencakup dua perintah dan pada keduanya itu Tuhan menggantungkan seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi.... demikianlah kesepuluh perintah dibagi atas dua loh batu. Tiga ditulis pada batu yang satu dan tujuh pada batu yang lain”(Agustinus).
Demikian sepuluh firman dalam Kitab Keluaran 20:1-17 dan Ulangan 5:6-21 diringkas oleh santo Agustinus dan selanjutnya dikenal dalam tradisi kateketis sebagai berikut:
Aku Allah, Tuhanmu.
  1. Jangan memuja berhala, berbaktilah kepada-Ku saja dan cintailah Aku lebih dari pada segala sesuatu.
  2. Jangan menyebut nama Allah, Tuhanmu, tidak dengan hormat.
  3. Kuduskanlah hari Tuhan.
  4. Hormatilah ibu-bapamu.
  5. Jangan membunuh.
  6. Jangan berbuat cabul. à Jangan berzinah
  7. Jangan mencuri.
  8. Jangan naik saksi dusta terhadap sesamamu manusia.
  9. Jangan ingin berbuat cabul. à Jangan mengingini istri sesamamu
  10. Jangan ingin akan milik sesamamu manusia secara tidak adil.

1.    ASAL USUL 10 PERINTAH ALLAH DALAM GEREJA KATOLIK
A.       DEKALOG DALAM KITAB SUCI:
“Dekalog” secara harafiah berarti “sepuluh firman” (Kel 20:2-17 dan Ul 5:6-21). Allah mewahanyaukan sepuluh firman itu kepada umat-Nya di gunung suci Sinai. Berbeda dengan perintah-perintah lain yang ditulis Musa, sepuluh firman ini ditulis oleh jari Allah sendiri. Karena itu firman itu merupakan kata-kata Allah dalam arti khusus. Firman-firman itu diwahanyaukan oleh Allah kepada kita dalam kitab Keluaran dan Ulangan.
Dekalog harus dimengerti dalam hubungan dengan keluaran dari Mesir, pembebasan Allah yang besar yang terdapat dalam pusat Perjanjian Lama. Sepuluh firman ini entah dirumuskan secara negatif sebagai larangan, atau secara positif sebagai perintah (seperti, hormatilah ayah dan ibumu), menunjukkan syarat-syarat untuk satu kehidupan yang dibebaskan dari perhambaan dosa. Dekalog adalah jalan kehidupan.
Kekuatan dekalog yang membebaskan ini kelihatan, umpamanya dalam perintah mengenai istirahat pada hari sabat, yang berlaku juga untuk orang asing dan budak: ”Sebab haruslah kau ingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh Tuhan Allahmu, dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung”(Ul 5:15).
Di dalam sepuluh firman disimpulkan dan diumumkan hukum Allah: “Firman itulah yang diucapkan Tuhan kepada seluruh jemaat dengan suara nyaring di gunung, dari tengah-tengah api, awan dan ditulis-Nya semuanya itu pada dua loh batu, lalu diberikan-Nya kepadaku (Ul 5:22). Karena itu kedua loh batu itu dinamakan “Loh Perjanjian”. Mereka berisikan ketentuan-ketentuan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Kedua loh perjanjian ini harus disimpan di dalam tabut (Kel 25:16, 40:3).
Sepuluh firman itu diucapkan oleh Allah dalam rangka satu teofani, Tuhan telah berbicara berhadapan muka dengan kamu di gunung dan di tengah-tengah api. Sepuluh firman itu termasuk dalam pewahanyauan diri Allah dan kemuliaan-Nya. Di dalam firman-firman itu Allah memberi Diri sendiri dan kehendak-Nya yang kudus. Dengan menyatakan kehendak-Nya Allah menyatakan diri kepada umat-Nya.
Anugerah firman dan hukum adalah bagian dari perjanjian yang Allah adakan dengan orang-orang-Nya. Menurut kitab Keluaran, wahanyau dari sepuluh firman itu terjadi dalam jangka waktu antara penawaran perjanjian dan pengikatan perjanjian, setelah umat itu mewajibkan diri untuk melakukan segala sesuatu yang dikatakan Tuhan, dan supaya mematuhi Dia (Kel 24:7). Dekalog baru disampaikan, kalau sebelumnya diperingatkan akan perjanjian itu (Tuhan Allah kita telah mengikat prjanjian dengan kita di Hoereb, Ul 5:2).
Firman-firman itu memperoleh artinya yang penuh dalam rangka perjanjian. Menurut Kitab Suci, tindakan moral manusia mendapat arti yang sebenarnya di dalam perjanjian dan oleh perjanjian. Yang pertama dari sepuluh firman itu mengingatkan bahwa Allah mengasihi umat-Nya lebih dahulu. Firman-firman itu sendiri baru menyusul di tempat kedua. Firman-firman itu mengatakan apa yang harus dilakukan berdasarkan hubungan dengan Allah yang diadakan melalui perjanjian. Pelaksanaan hidup kesusilaan adalah jawaban atas tindakan Tuhan yang penuh kasih. Jawaban itu berupa pengakuan, pemberian hormat dan terima kasih kepada Allah. Jawaban itu merupakan kerja sama dalam rencana yang Allah laksanakan dalam sejarah

B.       DEKALOG DALAM TRADISI GEREJA:
Sejak santo Agustinus sepuluh firman itu mendapat tempat penting dalam pengajaran untuk calon baptis dan umat beriman. Dalam abad ke-15 muncul pula kebiasaan menyusun kembali firman-firman dekalog dalam rumusan positif dan dalam bentuk sajak yang mudah diingat. Kebiasaan itu untuk sebagian masih ada sampai sekarang. Katekismus Gereja Katolik sering kali menerangkan ajaran kesusilaan Kristen berdasarkan sepuluh firman.
Dalam peredaran sejarah firman-firman itu dibagi dan diuruntukan secara berlain-lainan. Katekismus Gereja Katolik mengikuti pembagian yang dibuat oleh santo Agustinus dan telah menjadi tradisi dalam Gereja Katolik. Pembagian ini juga digunakan dalam pengakuan iman Luteran. Bapa-Bapa Yunani memakai pembagian yang agak lain, yang terdapat dalam Gereja Ortodoks dan persekutuan aliran Calvin.
2.    PENTINGNYA SEPULUH FIRMAN ALLAH
Pengalaman menunjukkan bahwa dalam pelajaran agama baik di sekolah    maupun di luar sekolah, di rumah, di sekolah, perayaan ekaristi hari minggu  sepuluh Firman itu tetap dipakai sampai sekarang.
Sepuluh perintah Allah adalah hukum Allah,  karena berasal dari Allah, maka kudus dan khusus. Karena itu  harus ditaati.“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakah hukum taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya (Mat 5:17). Sepuluh perintah Allah bukan untuk dibatalkan melainkan untuk digenapi
Sepuluh perintah Allah itu sangat bernilai, perintah-perintahnya tepat dan pasti. Isinya komprehensif. Perintah-perintah itu menyentuh soal moral dalam  hidup manusia. Setiap orang akan mengakui bahwa membutuhkan nasihat berkenaan dengan nilai-nilai moral secara tepat dan pasti.
Memang bukan perkara yang mudah menerapkan nilai-nilai abstrak   seperti keadilan, keprihatinan, pelayanan, penghargaan disebut itu.

3.    REFLEKSI TENTANG DARI MANAKAH SEPULUH PERINTAH ALLAH?
Kitab Perjanjian Lama mengisahkannya sebanyak 2 kali dalam dua redaksi teks yang berbeda, yaitu dalam Keluaran 20:1-17 dan Ulangan 5: 6-22. Demikian kemudian sepuluh perintah Allah diterima oleh umat itu sebagai Hukum Allah.
Sepuluh perintah Allah berfungsi mengarahkan jalan umat Allah, agar di dalam perjalanannya mereka bebas dari kebodohan dan nafsu. Seorang Israel yang baik: dulu, sekarang dan nanti mengaanggap bahwa memegang sepuluh perintah Allah merupakan cara mereka mengungkapkan syukur dan hidup berdasarkan hubungan mereka dengan Allah. Perintah Allah akan bermakana bila dilihat dan diletakkan dalam konteks hubungan kasih dengan Allah. Dari mana asal usul sepuluh perintah Allah itu? Dan kemanakah perginya sepuluh perintah Allah itu? Sesuatu telah terjadi sebelum ada sepuluh perintah Allah itu. Yaitu Perjanjian antara Allah dengan umat-Nya. Perjanjian itu menunjukkan hubungan khusus antara Allah dengan umat-Nya. “Mereka adalah umat-Nya dan Ia adalah Allah mereka”
Konkritnya Allah berjanji, Ia akan melaksanakan penebusan atas umat manusia melalui bangsa yang dipilihNya itu. Ia berjanji akan tetap setia pada mereka dan membebaskan mereka dari dosa. Sebaliknya Umat itu berjanji untuk setia kepada-Nya, hanya menyembah Dia dan melaksanakan sepuluh perintah Allah. Dengan kata lain sepuluh perintah Allah itu merupakan bagian dari perjanjian mereka.

4.    NILAI YANG TERKANDUNG DALAM SEPULUH PERINTAH ALLAH.
1.    Kerangka bagian-bagian dekalog diperuntukan bagi bangsa yang tidak terdidik yang hidup dalam suasana permusuhan. Untuk menjadi umat Allah orang Israel  harus melaksanakan  nilai-nilai yang terkandung dalam dasa firman itu.
2.    Sepuluh perintah Allah mempunyai nilai abadi yang terbungkus di dalam paket perjanjian  bangsa Israel. Kita perlu membukanya untuk menemukan nilai –nilai nya di dalam terang wafat dan kebangkitan Yesus Kristus dan kemudian  menetapkannya dengan persoalan moral dan tantangan pada masa kini.
3.    Jika kita merasakan bahwa tuntutan untuk melaksanakan hukum Allah, baik lama maupun yang baru, merupakan keterpaksaan, beban yang diletakkan kepada kita oleh Tuhan, maka kita tidak menangkap makana hukum Allah. Karena itu kita seharusnya:
  Menemukan Allah sebagai pribadi yang mencintai kita, yang  membebaskan kita dari perbudakan, dan pribadi yang mau menjadi Allah kita.
  Dengan demikian secara keseluruhan hukum Allah akan mempunyai makana baru yakni perintah Allah menjadi cara hidup kita dan mengungkapkan perjanjian hubungan kita dengan Allah.


5.    KAITANNYA DENGAN PERJANJIAN BARU
1.    Perjanjian Lama berbeda dengan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama telah melahirkan  perjanjian  dengan Allah termasuk dalam sepuluh perintah Allah itu. Maka  perjanjian umat Israel dengan Allah berbeda dengan perjanjian umat perjanjian Baru dengan Allah. Singkatnya perjanjian umat Kristen dengan Allah dan Israel dengan Allah  memang berbeda.
2.    Peristiwa Yesus Kristus, Mesias telah datang, Ia tinggal di antara kita, dihukum mati, dibangkitkan dari kematian, Roh Allah telah diberikan kepada kita. Semua ini merupakan pengalaman religius perjanjian baru.
3.    Moralitas umat perjanjian baru haruslah dilahirkan oleh pengalaman iman yang mendalam akan kebangkitan Kristus. Iman akan Yesus Kristus itu mengajak kita untuk berbuat lebih dari sepuluh perintah Allah. Maka harus disadari bahwa sepuluh perintah Allah itu hanya salah satu bagian dari moralitas  Kristen, bukan keseluruhannya.  Sesuatu yang telah terjadi dan belum dibayangkan terjadi adalah Yesus bangkit dan Roh-Nya bekerja di antara kita.


6.    BAGAIMANA PELAKSANAAN DI JAMAN SEKARANG
1.    Menjalankan sepuluh perintah Allah tentu tidak sekedar menghafalkan, mengubah rumusan negatif  “jangan” menjadi positif. Tidak pula sekadar menyesuaikannya dengan kondisi masa kini.
2.    Perbedaan sepuluh perintah Allah pada zaman Musa dan bangsanya dengan sepuluh perintah Allah pada masa kini  terletak pada perbedaan iman. Maka iman menjadi masalah dasar dalam hal ini.
3.    Tidak ada orang yang mau menjadi Kristen hanya dengan menjalankan sepuluh perintah Allah sepanjang hidupnya. Untuk menjadi Kristen faktor yang paling mendasar adalah keputusan pribadi atas iman kepada Yesus Kristus yang bangkit  dari alam maut. Iman seperti itulah yang menjadi perwujudan kasih, menjadi dasar moralitas Kristen. Tanpa pengalaman iman yang mendalam akan Yesus Kristus yang bangkit, kita merasa tidak perlu lagi mendalami sepuluh perintah Allah.
Meskipun banyak orang dewasa ini mengalami kemunduran standar moral, permasalahan mendasar dewasa ini seperti biasanya, bukan pada perbuatan kita, tetapi pada iman kita.

FIRMAN IV, HORMAT AKAN ORANGTUA
HORMATILAH IBU-BAPAMU

Perintah keempat ditujukan secara khusus kepada anak-anak yang menyangkut hubungan mereka dengan ayah dan ibu, karena inilah hubungan yang paling mendasar. Juga mencakup hubungan kekeluargaan dengan anggota keluarga yang lain. Perintah ini menghendaki agar ditunjukkan penghormatan, cinta kasih dan terima kasih kepada sanak keluarga yang lebih tua dan nenek moyang. Akhirnya perintah ini juga menyangkut kewajiban anak-anak sekolah terhadap gurunya, karyawan terhadap majikan, bawahan terhadap atasannya, warga negara terhadap tanah air dan pemerintahnya. Jadi hal pokok yang ada dalam perintah ini adalah HAK dan KEWAJIBAN. Hak dan kewajiban orangtua terhadap anak-anak mereka. Hak dan kewajiban anak-anak terhadap orangtua mereka. Hak dan kewajiban pejabat terhadap warga, hak dan kewajiban warga terhadap pemerintah dan Negara.

FIRMAN V, HORMAT AKAN KEHIDUPAN
JANGAN MEMBUNUH

Firman kelima melarang pembunuhan langsung dan dikehendaki sebagai dosa berat. Juga melarang melakukan sesuatu dengan maksud menyebabkan secara tidak langsung kematian seorang manusia. Hukum susila melarang membiarkan seorang tanpa alasan berat menghadapi bahaya maut, demikian juga penolakan memberi bantuan kepada seorang yang berada dalam bahaya maut.
Firman “jangan membunuh” membela hak manusia yang paling dasariah yaitu hak atas hidup. Apa artinya menjalankan firman kelima dengan mengikuti Kristus?  Dalam kotbah di bukit Yesus menjelaskan: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita:’jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum’. Tetapi Aku berkata kepadamu, setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum, siapa yang berkata kepada saudaranya jahil harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyalan”(Mat 5:21-22). Membunuh berarti membuang sesama dari persaudaraan manusia, entah dengan membunuhnya, entah dengan mengkafirkannya, entah dengan membecinya. Jadi sesungguhnya ada banyak pokok yang tercakup dalam firman kelima ini yang menjadi bahan untuk diskusi moral. Demikian misalnya Membela diri terhadap ancaman yang mematikan, Abortus, Eutanasia, Bunuh diri, Perang, Hukuman mati, Bioetika . Tapi masalah-masalah baru ini akan dibahas pada bagian lain dari makalah ini







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar