ariririta.com

Kamis, 09 April 2015

ANALISA SOSIAL DALAM KATEKESE UMAT




ANALISA SOSIAL
DALAM KATEKESE UMAT

1.      ARTI ANALISA SOSIAL
Analisa Sosial adalah suatu usaha untuk mempelajari struktur sosial yang ada, mendalami institusi ekonomi, politik, agama, budaya, dan keluarga, sehingga kita tahu sejauh mana dan bagaimana institusi – institusi itu menyebabkan ketidakadilan sosial. Analisa sosial adalah satu usaha nyata yang merupakan bagian penting menegakkan keadilan sosial. Dalam Katekese Umat, analisa sosial merupakan alat bantu.
2.      TUJUAN ANALISA SOSIAL
š Mengetahui penyebab/ akar permasalahan yang terjadi dalam masyarakat.
š Dengan mempelajari institusi – institusi itu, kita akan mampu melihat masalah sosial  yang ada dalam konteksnya yang lebih luas(lokal, regional, nasional, dan internasional).
š Dan kalau kita berhasil melihat suatu masalah sosial yang hendak kita pecahkan dalam konteksnya yang lebih luas, maka kita pun dapat menentukan aksi yang lebih tepat yang diharapkan dapat menyembuhkan sebab terdalam dari masalah tersebut.
š Membina iman yang terlibat dan bertanggungjawab dalam kenyataan sosial.
3.      MACAM-MACAM ANALISA SOSIAL
a)      Lima dimensi Analisa Sosial
Menurut Jhon Prior, analisa sosial dibagi kedalam 5 dimensi yaitu :
1.    Dimensi Ekonomis
š Mulai dari menggambarkan bagaimana kenyataan ekonomis dari situasi, yang didalamnya masyarakat menemukan dirinya.
š Pengalaman menunjukkan apabila suatu kelompok menganalisa suatu dimensi secara sistematis maka akan diperoleh penemuan-penemuan baru.
š Penting juga untuk menempatkan analisa tersebut pada suatu level zonal yang bergerak dari tingkat lokal ke regional, dari regional ke nasional, dan dari tingkat nasional ke international. Hal ini dilakukan guna memahami secara menyeluruh sifat saling mempengaruhi yang terjadi pada dimensi ekonomi ini.
š Dimensi ekonomi dalam banyak hal sangat fundamental dan mempengaruhi apa yang terjadi pada dimensi-dimensi lain.
2.    Dimensi Politik
š Hal ini berkaitan dengan penggunaan kekuasaan di dalam masyarakat siapa yang menentukan undang-undang dan melaksanakannya dan demi keuntungan siapa.
š Yang terpenting ialah kenyataan ketidakadilan yang begitu biasa dalam politik.
š Menurut konsep kristiani tentang pribadi adalah perlu bahwa orang berpartisipasi dalam membentuk masyarakat mereka bagi keuntungan semua orang.
š Bila partisipasi ini ditantang, hal ini menjadi problem pastoral, karena akjan terjadi dehumanisasi
š Proses dehumanisasi dalam masyarakat menyebabkan mereka bersikap sebagai penerima pasif terhadap keputusan-keputusan orang lain dan mempersulit mereka untuk menjadi manusia yang matang dan karena itu juga sulit untuk sampai pada suatu jawaban yang penuh iman.


3.    Dimensi Sosial
š Dimensi sosial lebih mengarah pada perhatian terhadap kelompok-kelompok basis yang membentuk masyarakat, yakni kelompok petani, pekerja/buruh, tuan-tuan tanah dan kelompok orang kaya pada umumnya.
š Perhatian juga terhadap realitas kelas-kelas, masyarakat, struktur keluarga, persekolahan, pemeliharaan kesehatan, dan sistem legal.
š Maka katekese hendak mengarahkan minatnya untuk melihat bagaimana faktor-faktor ini membentuk manusia yang dipanggil kepada kebebasan dan kematangan melalui rahmat Kristus.
4.    Dimensi Kultural
š Dimensi ini secara mendasar lebih berhubungan dengan sistem nilai yang dianut oleh masyarakat, yang meresap lebih jauh didalam motivasi mereka, misalnya mereka bertindak menurut cara yang mereka biasa bertindak.
5.    Dimensi Religius
š Menurut istilah ilmu pengetahuan  sosial hal ini biasanya tergolong dalam dimensi kultural, namun karena hal ini penting sebagai dimensi yang terdalam dari masyarakat, dimana masalah-masalah terakhir dipertanyakan dan tinjauan dunia yang menyeluruh diintegrasikan, hal itu meminta perhatian istimewa dari manusia.
Dimensi Analisa Sosial diatas dianalisa dengan menggunakan 3 pendekatan , yaitu:
1.        Pendekatan analisis fenomenalis – historis
š Dalam analisis ini menempatkan problem yang sedang diselidiki dalam konteks sejarah seturut pandangan masyarakat setempat yang dibandingkan dengan dokumen-dokumen seperlunya.
š Analisis ini ditempatkan dalam konteks sejarah perjuangan masyarakat.
š Analisa ini dimunculkan dari pengikut-sertaan dalam kecemasan dan pengharapan yang telah dialami selama ini.
2.        Pendekatan analisis struktural – budaya  (semiotik)
š Melalui analisis ini dipahami sistem pemahaman budaya dibalik pengalaman masyarakat yang dipakai oleh orang setempat untuk menafsirkan pengalaman dan menata tingkah lakunya.
š Yang dianalisis misalnya, simbol-simbol bahasa, tingkah laku, dan benda.
3.        Pendekatan analisis sosiologis
š Meneliti situasi seturut golongan-golongan masyarakat.
š Contohnya, golongan tua dan muda, pria dan wanita, desa dan kota, petani, buruh, pedagang, orang kebanyakan, dan orang elite.  
b)     Analisa Sosial dengan “tiga poros”
Dalam Nota Pastoral 2004 berjudul “Keadaan publik : menuju habitus baru bangsa”, KWI memperkenalkan analisa sosial dengan 3 poros, yaitu :
1.    Poros Negara
š Melalui badan-badan publiknya, negara bergerak di ruang publik dengan menyelenggarakan kesejahteraan umum.
š Keberadaannya berdasarkan kekuasaan yang dilimpahkan secara sah padanya oleh masyarakat, melalui suatu proses demokratis misalnya, Pemilihan Umum.
š Lembaga publik ini mempunyai kuasa regulatif yang memungkinkan pengaturan dan koordinasi hidup bersama misalnya wewenang untuk melarang pabrik kertas membuang limbah di sungai yang membahayakan kesehatan masyarakat di sekitar pabrik tersebut.

2.    Poros Pasar
š Bergerak di ruang publik melalui urusan transaksi jual-beli barang dan jasa secara spontan namun “fair” demi keuntungan baik bagi penjual, pembeli, maupun masyarakat pada umumnya.
3.    Poros Masyarakat Warga
š Berinteraksi di ruang publik atas dasar saling percaya dan tata perilaku sosial yang diandaikan diterima dan dihormati oleh semua pihak.
š Contohnya, rasa aman berjalan di jalan umum, rasa nyaman dalam beribadat, memasang lampu penerang di depan rumah demi kepentingan  bersama, semua hal ini merupakan tanda ada dan berfungsinya sebuah komunitas warga.
c)      SWOT
š  SWOT adl metode perencanaan strategis yg digunakan utk mengevaluasi kekuatan kekuatan (Strengths), kelemahan (Weaknesses), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats).
š  kekuatan (Strengths): bgm kekuatan mampu mngembil keuntungan dr peluang yg ada
š  kelemahan (Weaknesses): bgm cr mengatasi kelemahan yg akan menghambat keuntungan dn peluang,
š  peluang (Opportunities):  peluang yang ada diantara kelemahan
š  ancaman (Threats): ancaman yg mungkin muncul dalam mencapai peluang
4.      MODEL ATAU KERANGKA BERPIKIR DALAM MENGANALISA SITUASI
Ada 2 model yang sering melatarbelakangi orang dalam mendekati masalah-masalah sosial, yaitu :
1.      Model Konsensus
Menurut model konsensus ini :
š Struktur sosial yang ada merupakan hasil konsensus bersama anggota masyarakat, perjanjian dan pengakuan bersama akan nilai-nilai.
š Setiap masyarakat pada hakekatnya teratur dan stabil disebabkan karena adanya kultur bersama yang meliputi nilai-nilai, norma, dan tujuan yang hendak dicapai, yang dianut dan dihayati oleh masyarakat.
š Dengan adanya konsensus bersama, maka tata sosial dalam suatu masyarakat tetap stabil.
š Oleh karena itu, masalah sosial dinilai sebagai penyimpangan dari nilai-nilai dan norma-norma bersama karena dianggap membahayakan stabilitas sosial dan penyelesaiannya selalu diusahakan didalam kerangka tata sosial yang sudah ada.
š Model konsensus ini melatarbelakangi 2 ideologi, yaitu :
a)   Ideologi Konservatif
-    Menjunjung tinggi struktur sosial (stratifikasi sosial/tingkat sosial).
-    Perbedaan tingkat sosial disebabkan karena perbedaan diantara individu-individu dengan bakat-bakat yang berbeda, setiap orang harus berkembang sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
-    Prestasi yang berbeda dan hak untuk mendapat balas jasa yang berbeda merupakan dasar adanya hak milik pribadi.
-    Kaum konservatif melihat masalah kemiskinan sebagai kesalahan pada orang miskin itu sendiri. Sebab orang miskin dinilai bodoh, malas, tidak punya motivasi berprestasi yang tinggi, tidak punya ketrampilan, dsb.  
-    Kaum konservatif sering berbicara mengenai kultur dan mentalitas orang miskin yang mereka anggap sebagai sebab kemiskinan karena mereka menilai positif struktur sosial yang sudah ada maka orang miskin dianggap sebagai orang yang gagal menyesuaikan diri dalam tata sosial yang ada atau bahkan menyimpang dari ketentuan yang diharapkan dan disetujui masyarakat.
-    Kaum konservatif senang menyebarluaskan contoh-contoh orang yang berhasil misalnya, dari bekerja sebagai penjual koran akhirnya bisa menjadi orang yang sukses.
-    Kaum konservatif tidak mendukung adanya campur tangan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan. Misalnya, pemerintah memberi dana bagi mereka yang berpendapatan rendah, maka hal ini dianggap akan membuat orang miskin semakin malas dan mengurangi motivasi untuk berkembang bagi kelompok tersebut.
b)   Ideologi Liberal
-    Liberalisme memandang manusia sebagai yang digerakkan oleh motivasi kepentingan ekonomi pribadi dan liberalisme mempertahankan hak manusia untuk mencapai semaksimal mungkin cita-cita pribadinya.
-    Liberalisme percaya akan efektivitas pasaran bebas dan hak atas milik pribadi, hak-hak, kebebasan individu sangat ditekankan dan diperjuangkan demi untuk melindungi individu-individu terhadap kesewenangan negara.
-    Kaum liberal memandang kemiskinan sebagai masalah yang serius, karenanya harus diselesaikan dalam struktur politik, ekonomi yang sudah ada. Yang terpenting ialah diciptakannya kesempatan yang sama untuk berusaha bagi setiap orang tanpa diskriminasi.
-    Kaum liberal percaya bahwa orang miskin dapat mengatasi kemiskinan mereka asalkan mendapat kesempatan berusaha yang memadai.
-    Untuk mengatasi kemiskinan, kaum liberal mengusulkan diperbaikinya pelayanan-pelayanan bagi kaum miskin, membuka kesempatan-kesempatan kerja baru, membangun perumahan dan menyebarluaskan pendidikan.
-    Sehubungan dengan kultur orang miskin, kaum liberal mempunyai pandangan yang optimistis. Menurut mereka agar orang miskin terbebaskan dari kultur kemiskinannya maka perlu diadakan perubahan-perubahan terhadap lingkungan dan situasi hidup mereka yang meliputi, dihapuskannya diskriminasi dalam mencari kerja, perumahan, dan pendidikan. Perlu juga diciptakannya lapangan-lapangan kerja dan latihan-latihan ketrampilan dan diperbaikinya pelayanan-pelayanan lainnya.
-    Menurut kaum liberal, jika kondisi-kondisi sosial dan ekonomi telah diperbaiki dan kesempatan-kesempatan baru telah terbuka bagi orang miskin maka mereka akan siap menyesuaikan diri dengan kultur dominan dalam masyarakat dan meninggalkan kultur mereka.
-    Baik konservatif maupun liberal mempertahankan struktur sosial yang sudah ada. Struktur sosial ditandai dengan perbedaan tingkat sosial, sistem ekonomi kapitalis, dan demokratis politik.
-    Dalam memandang kemiskinan ada perbedaan antara kaum konservatif dan liberal. Konservatif cenderung menyalahkan orang miskin sebab tidak berusaha menggunakan kesempatan-kesempatan yang ada yang disediakan oleh masyarakat, sedangkan kaum liberal memandang bahwa kesempatan yang ada belum cukup memadai sehingga orang miskin tidak bisa hidup sesuai harapan, maka usaha kaum liberal ialah bagaimana memungkinkan orang miskin hidup dalam struktur sosial yang sudah ada, sedangkan kaum konservatif lebih cenderung membiarkan orang miskin berusaha sendiri.


2.   Model Konflik
Menurut model konflik ini :
š Struktur sosial yang ada sebagai hasil pemaksaan sekelompok kecil anggota masyarakat terhadap mayoritas warga masyarakat. Jadi, struktur sosial bukanlah hasil konsensus seluruh warga apalagi persetujuan bersama mengenai nilai-nilai dan norma-norma.
š Struktur sosial adalah dominasi sekelompok kecil dan kepatuhan serta ketundukan sebagian besar warga masyarakat atas dominasi kelompok kecil tersebut.
š Hukum dan undang-undang dalam masyarakat adalah ciptaan kelompok kecil, elite, kelompok yang memerintah untuk mempertahankan kepentingan mereka. Hukum dan undang-undang ditujukan untuk melindungi milik-milik pribadi dan kepentingan mereka.
š Model ini memandang positif perubahan-perubahan dan konflik sebagai sumber-sumber potensial bagi perubahan sosial yang progresif.
š Penganut model ini selalu mempertanyakan struktur sosial yang sudah ada dan menganggapnya sebagai penyebab kemiskinan. Maka, persoalan kultur dan mentalitas orang miskin tidak menarik perhatian para penganut model konflik sebab persoalan kultur orang miskin dianggap tidak mempersoalkan secara mendasar struktur ekonomi dan kekuasaan politik yang sudah ada.
š Model konflik menilai kultur dan mentalitas orang miskin yang sudah digambarkan oleh kaum konservatif disebabkan oleh struktur sosial itu sendiri yang tetap bertahan sejak dahulu.
š Penganut model ini selalu mempersoalkan struktur sosial yang dianggap sebagai sebab kemiskinan. Untuk menganalisa keadaan mereka selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan, sebagai berikut :
-      Kelompok mana yang mendapat untung dari sistem masyarakat yang ada dan kelompok mana yang dirugikan?
-      Siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam kompetisi, dalam grup dan di antara grup yang ada?
-      Faktor-faktor mana yang menentukan siapa pemenang dan siapa yang kalah?

Pandangan model konflik tentang masyarakat
·         Penganut model ini melihat masyarakat yang ada sebagai masyarakat massal yang terdiri dari kelompok elite yang berada di atas dan massa rakyat banyak yang ada di lapisan bawah yang sama sekali tidak terorganisasi sehingga tidak memiliki konsumen mass media.
·         Komunikasi terjadi hanya satu arah dan pendengar-pendengar individual tidak dapat memberi reaksi/jawaban kembali sehingga kelompok ini tidak mampu menyuarakan pendapat mereka.
·         Penganut model konflik juga berpendapat bahwa dalam masyarakat kemiskinan memang sengaja dipertahankan sebab orang-orang miskin dianggap memang mempunyai fungsi.
·         Sistem ekonomi, kepentingan kelompok penguasa, dan elite penguasa membutuhkan kelanggengan kemiskinan sebab kemiskinan akan menjamin adanya pekerja-pekerja kotor yang harus dikerjakan dalam masyarakat. Dengan kata lain, kemiskinan berfungsi menyediakan tenaga-tenaga kerja murah yang mau menangani pekerjaan kotor dengan upah murah, maka sebenarnya orang miskin memberikan subsidi berbagai macam kegiatan ekonomi yang menguntungkan orang kaya.
·         Orang miskinn juga berfungsi menstabilkan proses kehidupan politik, karena pada umumnya mereka acuh dan kurang berminat dalam kegiatan politik, misalnya dalam PEMILU, sejauh mereka telah diharapkan pasti akan memilih partai tertentu maka partai yang bersangkutan terus memusatkan perhatian dan usahanya untuk memperoleh dukungan suara dari kelompok kelas menengah dan atas, sebab orang miskin dianggap sudah dalam genggaman.
·         Orang miskin juga dibutuhkan sebagai identifikasi jelas pelanggaran-pelanggaran norma masyarakat. Misalnya, untuk membenarkan baiknya kerja keras, rajin, jujur, monogami, maka para pendukung dan pembela norma-norma ini harus dapat menemukan orang-orang yang bisa dinilai sebagai orang-orang yang malas, penipu, dan asusila. Demikianlah nasib orang miskin yang lebih mudah daripada kelompok kelas menengah dan atas untuk ditangkap dan dihukum jika mereka melanggar norma-norma masyarakat.
Amal dan sosial
·         Menurut penganut model konflik, segala usaha amal, jaminan sosial, pelayanan-pelayanan sosial dianggap sekedar untuk menyenangkan orang miskin hanya untuk sementara saja.
·         Pelayanan-pelayanan sosial diadakan hanya untuk tujuan ekonomis dan politis yaitu demi terhindarnya kekacauan sosial dan demi pengaturan kerja dengan upah rendah.
·         Dihindarinya kekacauan sosial dimaksudkan agar sistem politik yang ada dapat terus dipertahankan, sedangkan pengaturan dengan upah rendah demi kelangsungan sistem kapitalisme.
·         Dengan demikian, jaminan-jaminan sosial yang diberikan Negara untuk orang-orang miskin pada hakikatnya adalah mekanisme untuk mengontrol dan mengendalikan orang-orang miskin.
Jalan keluar
·         Menurut penganut model konflik, jalan keluar yang mengarah kepada perubahan sosial melewati garis moderat sampai pada garis yang benar-benar radikal.
·         Garis moderat menghendaki demokrasi partisipatif baik dalam grup-grup sosial yang ada maupun dalam organisasi-organisasi sebagai tujuan yang harus dicapai oleh setiap masyarakat. Penganut garis moderat tidak menganggap penting kepemimpinan sebaliknya mereka yakin bahwa semua orang harus ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan-keputusan yang mempengaruhi hidup mereka. Mereka menentang segala bentuk birokrasi, pengaturan dari luar, maka mereka menginginkan adanya kontrol, misalnya Mahasiswa terhadap Perguruan Tingginya, Buruh atas Pabriknya, dsb.
·         Penganut garis radikal menganjurkan aksi-aksi menentang sistem sosial yang ada, misalnya ketidaktaatan rakyat akan segala aturan yang ada, sebab mereka yakin bahwa tidak mungkin mengadakan perubahan-perubahan lewat saluran-saluran resmi/legal yang ada misalnya melalui PEMILU, saluran ini dianggap tidak efektif.


Perbedaan antara model konsensus dan model konflik secara skematis adalah sebagai berikut :
ASPEK
MODEL KONSENSUS
MODEL KONFLIK
KONSERVATIF
LIBERAL
1.      Struktur Sosial
-   Hasil konsensus.



-    Tidak dimasalahkan, bahkan dipertahankan.
-     Hasil konsensus.



-    Tidak dimasalahkan, bahkan dipertahankan.
- Buatan sekelompok kecil, yang lalu dipaksakan kepada minoritas.
- Selalu dimasalahkan.
1.1Stratifikasi   sosial
- Disebabkan oleh bakat individu; jasa atau karya seseorang dan masyarakat wajibh memberi balas jasa. Ini dasar hak milik pribadi.


- Menekankan asas
   ketidak-samarataan.
Sama dengan konservatif.
- Dibuat oleh yang
   berkuasa.
- Hak milik pribadi
   itu relative,
   mepunyai fungsi
   sosial.



- Menekankan asas
   kesama-rataan.
1.2 Otoritas/
     kepemimpinan
Dinilai sangat hakiki
Sama dengan konservatif
- Bersikap kritis
   Terhadap
   kepemimpinan.
- Otoritas akan
   Mementingkan
   diri
   sendiri (KUD).
1.3 Konflik kelas
- Cenderung menutup adanya konflik kelas.
- Menekankan
   persatuan
Sama dengan konservatif
Cenderung membuka konflik kelas yang disembunyikan.
1.4 Stabilitas
Stabilitas ditekankan
Sama dengan konservatif
Dinamika/perubahan sosial ditekankan.
1.5 Peraturan
Sedikit mungkin peraturan. Laissez faire, Laissez  passer.

Perlu adanya peraturan yang membatasi elite.
2.      Kemiskinan
Kesalahan orang yang bersangkutan sebagai sebab.
Kurangnya kesempatan berusaha bagi orang miskin.
Struktur sosial sebagai sebab.
3.      Usaha mengatasi kemisknan.
- Membiarkan.
-Menentang segala usaha/bantuan pemerintah/dari luar; menilainya counter produktive.
- Himbauan moral.
Menyediakan, memperluas kesempatan untuk berusaha bagi orang miskin.
Merubah struktur sosial, demokrasi, kekuasaan di tangan orang miskin.
4.      Aktor perubahan demi mengatasi kemiskinan
Orang yang bersangkutan sendiri.
Pemerintah, elite.
Aktor utama adalah orang miskin sendiri.
5.      Cara mengatasi.
Menertibkan orang-orang yang bersangkutan (himbauan moral).
Mengembangkan, merealisir kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam sistem.
Mengganti sistem/aturan.

3.   Model Konsensus atau Model Konflik
·         Model konsensus dan model konflik merupakan dua sisi pandangan tentang kenyataan masyarakat, yang saling melengkapi dan tidak dapat diabaikan salah satunya.
·         Konsensus atau konflik dalam masyarakat merupakan aspek-aspek struktur masyarakat yang dapat dimengerti jika kita menyadari adanya dialektik antara stabilitas dan perubahan, antara konsensus dan konflik.
·         Kedua model ini dipilih hanya untuk menerangkan masalah sosial yang ada, mengingat sebagian besar penduduk baik ditingkat regional, nasional, maupun international miskin hanya sebagian kecil penduduk yang kaya maka untuk menerangkan situasi kemiskinan ini model konfliklah yang lebih tepat.
·         Pemilihan model juga didasarkan pada posisi/jabatan seseorang. Orang yang telah menduduki posisi yang enak dan aman, misalnya sebagai pejabat pemerintahan atau telah berhasil di bidang ekonomi biasanya cenderung memilih model konsensus, sebaliknya orang-orang yang tidak menduduki posisi/jabatan yang aman dan enak cenderung memilih model konflik.
·         Demikianlah orientasi sosial dan politik seseorang menentukan pemilihan model. Pemilihan model tergantung pada sistem nilai seseorang, maka penting sekali orang mengungkapkan sistem nilainya dalam membahas masalah sosial.

KESIMPULAN:
a.      Model Konsensus
Yaitu melihat ketidakberesan masyarakat sebagai sesuatu yang harus diperbaiki tanpa merombak struktur masyarakat itu sendiri, karena struktur itu sudah harmonis, hasil konsensus. Ketidakberesan lebih disebabkan karena individu-individunya. Dibedakan lagi atas model consensus kosevatif dan model consensus konflik.
b.      Model Konflik
Yaitu melihat ketidaberesan masyarakat sebagai sesuatu yang menyangkut struktur dan sistem masyarakat, di mana selalu ada perbedaan dan adu kepentingan antara kelompok masyarakat. Model konflik lebih mampu membuka ketidakadlan. dengan menggunakan ANSOS model konflik bertujuan untuk membangun persaudaraan sejati.
                                                                                                
5.      SOTARKAE SEBAGAI SALAH SATU MODEL KU ANSOS
     Metode  SOTARKAE dikembangkan oleh Manuel Olivera, di Amerika Latin. Dengan  Group Medianya. Tahun 1985-1986, ia memberi kursus dalam mempergunakan media (program kaset suara, kaset video, sound slide, cerita bergambar, foto), media yang khusus dibuat untuk kelompok kecil, dan dikembangkan khusus untuk kebutuhan orang kecil, perkembangan selanjutnya disisipkan satu langkah lagi yaitu dengan memasukkan peranan Kitab Suci di dalam membuat Rangkuman, lalu ditambah K dari SOTARAE menjadi SOTARKAE.

SOTARAE adalah kumpulan huruf-huruf pertama dari:
S     : Situasi
O    : Obyektif
T     : Tema-tema
A    : Analisis
R     : Rangkuman
K    : Kitab suci
A    : Aksi
E     : Evaluasi

SOTARKAE adalah salah satu bentuk/model KU sebagai tawaran untuk menganalisa sebuah dokumen. Yang dimaksud dengan dokumen di sini adalah  suatu peristiwa berupa cerita, peristiwa baik tertulis maupun lisan yang menggambarkan suatu masyarakat tertentu.
Ø  Dokumen tertulis, misalnya surat kabar (berita tentang permasalah masyarakat kita).
Ø  Dokumen yang tidak tertulis, misalnya cerita lisan, audio (kaset video), legenda/ceritera rakyat, audiovisual
Jadi dokumen adalah sarana-sarana yang memperlihatkan situasi masyarakat yang mau dianalisakan.

Syarat-syarat dokumen yang baik:
Ø Pendek/singkat, jangan terlalu panjang dan berbelit agar mudah ditangkap oleh peserta.
Ø Jelas maksudnya, mudah ditangkap isinya secara obyektif, jangan merupakan teka-teki yang menimbulkan berbagai konotasi/penafsiran ganda.
Ø Mengandung suatu permasalahan yang menantang kita untuk berfikir lebih lanjut dan mendiskusikannya.

Langkah-Langkah
1.    SITUASI
Menjajaki kesan pertama  yg ditimbulkan oleh dokumen utnk membuka suatu pembicaraan stelah dipertunjukkan; apa yg dirasakan, pengalaman, atau ingatan apa yg timbul.
2.    OBYEKTIF
Meminta peserta untuk menceritakan kembali, apa, siapa, bagaimana, di mana dan lain-lain. Tujuan yang ingin dicapai dalam langkah ini adalah:
š Untuk mengembangkan kemampuan mengobservasi
š Untuk mengungkapkan kepada orang lain apa yang anda lihat atau dengar.
š Menyediakan waktu yang cukup untuk mengedepankan buah-buah pikiran, sehingga tidak tergesa-gesa dalam penilaian.
3.    TEMA-TEMA
Mengajak peserta untuk  mencari pokok-pokok pembicaraan yang ditemukan dalam dokumen tersebut dan hasil observasi sehub dg tema pokok dikelompokkan. Pokok-pokok itu diidentifikasi menurut prioritas.
4.    ANALISA
Pembahasan tema. Unsur-unsur yang perlu diperhatiakn:
š Apa yang menonjol
š Apa yang implisit/tersembunyi dan jelas ada meskipun tidak kelihatan
š Konteks, sebab-sebab, asal-usul, hubungan dengan fakta, gagasan dan lingkungan yang lain.
š Yang berhubungan dengan orang, situasi, fakta atau ide yang lain dari masa yang lampau atau dari jaman sekarang.
5.    RANGKUMAN
Setelah menganalisa, persoalan itu dirangkum untuk menemukan masalah pokok. Merangkum belum menyelesaikan persoalan tetapi dengan maksud supaya bisa mengadakan pemetaan masalah. Dengan pemetaan masalah kita akan mengambil satu langkah apa yang dapat kita perbuat.
6.    KITAB SUCI
š Merenungkan
š Mendalami
š Mencari pesan
7.    AKSI
Mengajak peserta untuk bersama-sama menentukan langkah-langkah konkrit yang dapat dibuat sebagai tanggapan atas masalah yang telah dibicarakan bersama.
8.    EVALUASI
Sediakanlah waktu untuk mengevaluasi seluruh kegiatan yang telah berlangsung.



Catatan tambahan :PENGANTAR KATEKESE

1.        Pengertian Katekese Umat dalam PKKI II:
Katekese umat diartikan sebagai tukar menukar pengalaman iman antara anggota jemaat / kelompok. Melalui kesaksian para peserta membantu sedemekian rupa, sehingga masing-masing diteguhkan dan dihayati secara makin sempurna. Dalam Katekese Umat tekanan diletakan pada penghayatan iman meskipun oengetahuan tidak dilupakan. KU mengandaikan perencanaan.

2.        Pusat Katekese: Dalam katekese umat, kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, Pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan Pengantara kita menanggapi sabda Allah. Yesus Kristus tampil sebagai pola hidup kita dalam Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Baru yang mendasari penghayatan iman Gereja sepanjang tradisinya.

3.        Yang berkatekese ialah umat, artinya semua orang beriman yang secara pribadi memlikh Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus. Kristus menjadi pola hidup pribadi maupun kehidupan kelompok.

4.        Pemimpin katekese bertindak terutama sebagai pengarah dan pemudah (fasilitator). Tugas seorang pemimpin KU yaitu menciptakan suasana yang komunikatif, membangkitkan gairah supaya para pesrta berani berbicara secara terbuka.

5.        Katekese Umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. Peserta berdialog dalam suasana terbuka, ditandai sikap saling menghargai dan saling mendengarkan.

6.        Tujuan Komunikasi iman adalah :
             ©          Supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari.
             ©          Dan kita bertobat (matanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari.
             ©          Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih, dan makin dikukuhkan dalam hidup kristiani kita.
Sebagai catatan, ketiga tujuan ini mengarah kepada iman yang personal atau iman yang mempribadi.
             ©          Kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta (iman yang eklesial atau menggereja).
             ©          Sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat (iman yang memasyarakat)
Kunci keberhasilan Katekese Umat adalah Pembina Katekese Umat yang disebut sebagai “Pemudah” atau “Fasilitator’.
7.         Tiga dimensi KU:
a)      KU sebagai CITA-CITA: Katekese di indonesia memiliki cita-cita dari, untuk, oleh umat
b)      KU sebagai GERAKAN: KU menjadi model/ pla bagi katekese yang lain. KU bersifat dialogal
c)      KU sebagai PILIHAN: Gereja Katolik Indonesia (mll perwakilan Komkat sekeuskupan di indonesiaà 33 diundang, 30 datang) memilih katekese yang cocok diterapkan sesuai konteks Indonesia adl KU. Pemilihan berdasar KV II (Grj adl Umat Allah) dan konteks di Indonesia (Musyawarah mufakat)

8.        ANSOS dibahas dalam PKKI V (Wisma Kinasih Caringin-Bogor 22-30 September 1992)
*      Tema Pertemuan PKKI V: Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat.
*      Dua hal yang perlu ditingkatkan, yaitu:
ü  Melihat dan memahami masalah ketidakadailan ini secara lebih mendalam dan meluas lewat analisa sosial.
ü  Melihat dan mendalami persoalan ketidakadilan serta penanganannya dalam terang Kitab Suci.
*      Maka dalam PKKI V ini, para peserta bergumul dengan analisa sosial dan Kitab Suci dalam menggambarkan Katekese Umat dan lebih menjawab persoalan zaman.
*      Hasil pertemuan PKKI V yaitu :
A.    Analisa Sosial
1.      Laporan dan Refleksi
Dari hasil sering dari tiap keuskupan ditemukan kesan bahwa: banyak keuskupan telah berusaha menggunakan ANSOS dalam KU. Namun, makna dan pelaksanaan ANSOS belumlah memadai. Maka dibutuhkan pelatihan untuk membuat ANSOS dengan baik.
Kemudian diberi catatan-cacatan refleksi dari para pakar pendamping, yaitu:
a.      Makna ANSOS
*      Analisa sosial hanya merupakan alat bantu. ANSOS biasanya diawali dengan observasi.
*      Melalui ANSOS, kita berjumpa dengan dimensi raksasa/global. oleh karena itu perlu penyederhanaan, perlu dilakukan langkah-langkah kecil yang berpengaruh dalam mengambil keputusan.
*      Melalui ANSOS, akan ditemukan nilai-nilai tertentu dalam masyarakat dan kemungkinan dapat terbebaskan dari belenggu masalah. Katekese mempertemukan kisah historis manusia/umat dengan Injil.
*      Katekese berciri sosial merupakan suatu proses penegakan keadilan. Hasil Katekese Sosial :
*      Untuk katekese berciri sosial, peserta perlu memperhatikan 2 hal :
ü  Tidak boleh berhenti pada keadilan personal tetapi harus sampai Ada tidaknya perubahan kesadaran
ü  Terjadi atau tidaknya prubahan yang lebih luas.
ü  Apakah Katekese sosial dapat atau harus menemukan/menunjkkan jalan keluar?
ü  kepada keadilan sosial
ü  Perlu menyadari faktor-faktor apa saja yang penting untuk mewujudkan keadilan.

2.      Latihan ANSOS
Peserta PKKI diajak untuk memperdalam ANSOS lewat latihan-latihan menganalisis. Kemudian diperkenalkan model-model analisa sosial. Model berarti kerangka dalam melihat suatu realitas sosial. Ada 2 model ANSOS yang diperkenalkan dalam PKKI V, yaitu :
c.       Model Konsensus
Yaitu melihat ketidakberesan masyarakat sebagai sesuatu yang harus diperbaiki tanpa merombak struktur masyarakat itu sendiri, karena struktur itu sudah harmonis, hasil konsensus. Ketidakberesan lebih disebabkan karena individu-individunya. Dibedakan lagi atas model consensus kosevatif dan model consensus konflik.
d.      Model Konflik
Yaitu melihat ketidaberesan masyarakat sebagai sesuatu yang menyangkut struktur dan sistem masyarakat, di mana selalu ada perbedaan dan adu kepentingan antara kelompok masyarakat. Model konflik lebih mampu membuka ketidakadlan. dengan menggunakan ANSOS model konflik bertujuan untuk membangun persaudaraan sejati.

B.     Kitab Suci dalam Katekese Umat
1.      Keterkaitan ANSOS dan Kitab Suci
                                           ©      ANSOS membantu untuk mengerti bagaimana Kerajaan Allah berjuang di tengah dunia melawan kekuatan-kekuatan yang menentangnya, struktur-struktur sosial yang ada, mengungkit wujud konkrit Kerajaan Allah yang harus. KS membantu untuk mengenal Kerajaan Allah seperti yang diwartakan oleh Yesus Kristus.
                                             ©      Jadi ANSOS membantu kita melihat KS dalam perspektif Kerajaan Allah.
2.      Pertemuan dengan Kitab Suci dalam KU
Dalam  KU kita tidak dipertemukan dengan teks KS, tetapi dengan pengalaman KS. Pengalaman kita bertemu dengan pengalaman KS.
3.      Menafsirkan teks Kitab Suci
Untuk bisa masuk dalam pengalaman alkitabiah, harus mampu menafsirkan teks Kitab Suci. Dalam menafsirkan teks KS dalam ber-KU, maka harus setia pada teks KS dan tetap memperhatikan pendengar. Para katekis, harus disentuh disentuh, digoyahkan, ditegur oleh KS sebelum ia membawa peserta ke sabda Tuhan. KS sebagai sarana, artinya membiarkan Tuhan sendiri berkarya dalam kelompok.
4.      Makna Kitab Suci dalam KU
a.       Mengartikulasikan pengalaman sosial peserta KU secara lebih tajam.
b.      Mengkritik sikap kita, para peserta.
c.       Menegur, meneguhkan memberi banyak kemungkinan, membuka wawasan, memberi inspirasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar