ariririta.com

Sabtu, 23 November 2013

KITAB SUCI DALAM KATEKESE UMAT

 
I.       Pengantar
Katekese Umat memang bertolak dari situasi hidup nyata. Dan situasi hidup nyata harus diterangi dengan firman Allah seperti yang tertera di dalam Kitab Suci. Firman Allah dalam Kitab Suci akan meneguhkan, menegur (mengkritisi) dan mengarahkan situasi hidup nyata, maka perlu bagi kita mengetahui/memahami hakekat Kitab Suci itu dan bagaimana menafsirkannya sebelum kita menggunakan dalam Katekese Umat.

II.    Memahami Hakekat Kitab Suci
Kitab Suci sering disebut kitab yang memuat firman Allah. Tuhan berbicara kepada manusia lewat pengalaman manusia yang direfleksikan dalam terang iman, sehingga menjadi pengalaman iman, yang kemudian ditulis dan dibukukan menjadi Kitab Suci itu. Kitab Suci lebih tepat disebut kitab iman.
Kitab-kitab iman yang memuat iman orang-orang Israel kepada Yahwe disebut Kitab-kitab Perjanjian Lama. Kitab-kitab iman yang memuat iman umat purba terhadap Yesus disebut Kitab-kitab Perjanjian Baru.

Sejarah Kitab Suci Perjanjian Lama dan Kitab Suci Perjanjian Baru
a.      Kitab Suci Perjanjian Lama
1.      Cerita tentang penciptaan manusia misalnya Kej 2:7-9; 18:21-23, hendaknya dilihat sebagai cerita iman bukan cerita sejarah. Dengan cerita itu, orang-orang Israel mau mengajarkan kepada anak cucunya bahwa:
-          Manusia (pria dan wanita diciptakan Tuhan).
-          Manusia, pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi.
-          Pria dan wanita memiliki derajat yang sama.
Ajaran dan keyakinan ini menjadi kepercayaan yang sangat kuat pada bangsa Israel. Mereka yakin bahwa ajaran yang terkandung dalam cerita itu harus dimengerti sesuai firman Allah. Semua itu terjadi berkat ilham dan bimbingan Roh Kudus.
2.      Seluruh Kitab Suci Perjanjian Lama adalah kitab iman bangsa Israel bukan riwayat hidup dan sejarah dari seseorang atau bangsa Israel.
3.      Perjanjian Lama sesungguhnya mengisahkan prasejarah, yakni kisah penciptaan sampai dengan Menara Babel (lih. Kej 1-11) dan sejarah Israel mulai dari Abraham yang hidup di sekitar 2000/1800 Sebelum Masehi sampai menjelang Yesus Kristus, namun, sejarah yang ditulis dalam Perjanjian Lama lebih merupakan sejarah iman.

b.      Kitab Suci Perjanjian Baru
-          Ketika Yesus masih hidup tidak ada orang yang mencatat apa yang dibuat atau dikatakan-Nya. Namun sesudah Yesus bangkit, murid-murid dan pengagum-Nya sangat terpukul oleh kematian-Nya, tiba-tiba mendapat semangat dan keyakinan baru yang luar biasa. Kemudian, mereka mulai bercerita dan mewartakan tentang diri Yesus dari Nazareth. Mereka begitu yakin bahwa Allah yang telah membangkitkan Yesus, tentu menyetujui dan membenarkan segala apa yang diajarkan-Nya dan dilakukan-Nya. Mereka mulai berbicara dan mewartakan tentang Yesus, ajaran-Nya dan tindakan-Nya. Tetapi, semua kisah yang ditulis itu sudah sangat diwarnai oleh rasa cinta, kagum dan kepercayaan mereka terhadap Yesus. Banyaklah kisah tentang Yesus beredar diantara pengikut-pengikut-Nya.
-          Sekitar 60-90 tahun kemudian, muncullah pikiran diantara murid-murid Yesus untuk menuliskan tentang Yesus (hidup, ajaran dan tindakan-Nya). Dengan bimbingan Roh Kudus mereka menuliskan tentang Yesus (hidup, ajaran dan tindakan-Nya).
-          Tulisan-tulisan dalam Perjanjian Baru misalnya Injil bukanlah sebagai laporan atau sejarah yang diteliti, tetapi sebagai buku iman dan cinta dari umat perdana tentang Yesus. Tulisan-tulisan tersebut dipengaruhi oleh iman dan maksud dari pengarangnya. Oleh sebab itu, tulisan-tulisan dari para penulis tentang Yesus tersebut terdapat perbedaan. Sebab mereka menulis suatu laporan atau sejarah yang teliti tentang Yesus, tetapi lebih tentang iman dan cinta mereka kepada Yesus Kristus.

c.       Kesimpulan
-          Kitab Suci adalah kitab iman umat Israel terhadap Yahwe dan iman umat perdana terhadap Yesus. Dan itu bisa menjadi modal beriman bagi kita. Dalam Katekese Umat kita berusaha bagaimana dapat memproses supaya penghayatan iman kita dalam hidup nyata ini dapat bercermin pada iman umat Israel dan iman umat perdana.

III. Menafsirkan Kitab Suci
Umat dalam kelompok KU menjadi penafsir Alkitab dan sekaligus pelaku penafsir dalam hidupnya. Mereka menjadi penafsir Alkitab secara kontekstual.
a.      Umat dalam kelompok KU punya wewenang untuk menafsirkan Alkitab.
-          Alkitab adalah buku Gereja, artinya buku yang mengungkapkan iman Gereja dan yang ditulis untuk membangun iman seluruh umat Allah. Alkitab tidaklah ditulis pertama-tama untuk Magisterium, para teolog, pengkotbah atau kaum religius, melainkan untuk seluruh Gereja.
-          Alkitab ditulis untuk dibacakan dalam jemaat. Tidak ada yang dianggap berlaku atau dapat dimengerti hanya oleh sekelompok orang saja. Apabila jemaat yang menjadi sasaran penulisan buku ini, maka pelaku pertama penafsiran Alkitab adalah seluruh Gereja atau lebih tepatnya seluruh umat Allah.
-          Komunitas KU sebagai perwujudan dari Gereja dalam bentuknya yang paling mendasar dengan sendirinya punya hak untuk menafsirkan Alkitab.
-          Tafsiran tidak boleh sesuka hati tetapi menurut maksud penulisan itu. Alkitab harus ditafsirkan dengan bimbingan dan penerangan Roh Kudus.
-          Penafsiran jemaat bersifat dialogal karena jemaat itu terdiri atas banyak orang dengan berbagai latar belakang dan pengalaman. Penglihatan dan pengertian seseorang belum tentu diterima oleh orang lain. Maka mereka harus saling membagi dan mendengarkan pemahaman masing-masing. Sebagai suatu jemaat mereka harus menanyakan panggilan yang akan mereka lakukan bersama berdasarkan pemahaman itu. Pemahaman yang lebih mendalam membutuhkan waktu dan Allah tidak bekerja tergesa-gesa.

b.      Pengalaman dan Penafsiran Alkitab.
-          Umat punya kemampuan menafsirkan Alkitab. Karena Alkitab adalah buku pengalaman iman, maka setiap orang yang punya pengalaman pasti akan mengerti Alkitab sesuai dengan kemampuan yang diberikan kepadanya.
-          Di lain pihak, harus diakui bahwa ada bagian Alkitab yang sulit dimengerti bukan hanya karena yang isinya terlalu tinggi dan cara berkatanya yang tidak biasa, melainkan pula karena terikat pada zaman dan tempat. Dalam hal ini, umat membutuhkan bantuan, tetapi tidak untuk mematikan kemampuannya menafsirkan Alkitab itu sendiri.
-          Kesalahan yang kerap dilakukan Gereja adalah orang kurang percaya akan karya Roh Kudus pada orang kecil dan sederhana. Kesalahan ini biasanya dilakukan oleh orang cerdik pandai dan belum bertobat dan menjadi seperti anak kecil. Orang-orang semacam itu tidak mengerti karya Allah kepada orang yang murni hatinya, kepada orang yang lapar dan haus akan kebenaran (bdk. Mat 5:6-8).

c.       Apakah perlu Bantuan dari para Teolog dan Magisterium?
Perlu, tetapi bantuan ini tidak pernah boleh membuat mereka menjadi tergantung. Karena setiap penafsiran yang menggantungkan diri pada orang lain tidak pernah bersifat asli dan kreatif.
-          Umat yang berkumpul bersama untuk mendengarkan firman Allah tidak boleh takut atau ditakut-takuti untuk menafsirkan.
-          Fasilitator perlu mempelajari ilmu tafsir Kitab Suci tetapi bukan untuk ditransfer kepada umat dalam kelompok KU.
-          Untuk memahami Kitab Suci secara lebih dalam, sebaiknya faslitator memahami:
1.      Konteks dari peristiwa yang diceritakan dalam Kitab Suci.
2.      Memperhatikan jenis sastra dalam Kitab Suci.
3.      Mendalami maksud pengarang Kitab Suci.



IV. Menggunakan Kitab Suci dalam Katekese Umat
a.      Tiga Tahap Penting KU, yakni:
-          Tahap menyadari pengalaman hidup, menyangkut pokok yang hendak digumuli.
-          Tahap melihat, persoalan yang telah digumuli dalam terang firman Allah.
-          Tahap merencanakan tindakan nyata untuk memperbaiki atau menumbuhkan situasi yang ada sehubungan dengan topik yang diangkat.

b.      Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan Kitab Suci dalam KU
-          Menggunakan teks-teks Kitab Suci untuk KU masa sekarang.
Jangan pernah mengambil suatu teks terlepas dari pesan teologisnya.
-          Pemilihan teks Kitab Suci harus memperhatikan pengalaman iman Kitab Suci yang berhubungan dengan pengalaman para peserta KU.
Jadi suatu teks yang mampu berbicara kepada suatu situasi serta pengalaman tertentu dalam keasliannya dari peserta KU.
-          Dalam KU kita tidak dipertemukan dengan teks Kitab Suci tetapi dengan pengalaman Kitab Suci.
Pengalaman kita bertemu dengan pengalaman Kitab Suci. Pengalaman alkitabiah menerangi pengalaman kita. Kedua pengalaman ini memiliki analogi, kesinambungan dan kemiripan tertentu yang tidak bisa apriori, melainkan harus dicari dalam pengalaman Yesus (Kitab Suci).
-          Untuk masuk dalam pengalaman alkitabiah, kita mesti mampu menafsirkan teks Kitab Suci.
Dalam menafsirkan Kitab Suci pada saat ber-KU dari satu pihak, kita harus setia pada teks, pada apa yang dimaksud pengarang dan di lain pihak, kita harus memperhatikan pendengar kita.
-          Teks-teks Kitab Suci bukan gudang untuk penyelesaian masalah melainkan suatu pewartaan atau komunikasi pengalaman iman yang memberi kemungkinan orang untuk berjumpa dengan Allah secara lebih pasti.


c.       Cara Memadukan Pengalaman Peserta KU dengan Pengalaman Kitab Suci
1.      Dari segi nalar yang sehat, harus ada keterkaitan isi (tema) antara pengalaman peserta KU dan pengalaman alkitabiah.
2.      Dari segi afektif perlu terpelihara keterkaitannya antara pengalaman peserta KU dan pengalaman alkitabiah.
3.      Dalam KU, peserta tidak dipertemukan dengan Kitab Suci tetapi dengan pengalaman Kitab Suci.
4.      Membangkitkan fantasi, imaginasi dan intuisi untuk dapat memperlancar proses dari pengalaman aktual peserta ke pengalaman alkitabiah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar