ariririta.com

Kamis, 15 Agustus 2013

Sejarah Gereja Indonesia secara Ringkas



1.    Latar belakang Misi Portugis dan Spanyol
-          Pada tahun 1493 raja spanyol dan permaisuri meminta kepada Paus Alexander IV (sbg orang spanyol) agar semua wilayah yang baru saja ditemukan disebelah barat Eropa diserahkan kepada kerajaan spanyol. Permohonan itu disetujui oleh Paus. Paus mengambil sebuah peta lalu menarik garis lurus dari kutub utara ke kutub selatan melalui Samudera Atlantik. Beliau menyerahkan seluruh kawasan sejauh kira-kira 500 kilometer disebelah barat kepulauan Azores dan tanjung Verde kepada raja spanyol.

-          Keputusan itu ditentang raja Portugal, terutama dalam kaitan dengan Brasil, yg dikuasai portugal, sesudah terjadi tawar-menawar akhirnya terjadilah suatu kompromi yang ditetapkan dalam perjanjian ‘Tordesillas’ pada tahun 1494 dmn dlm perjanjian itu raja Portugal mengakui hak raja Spanyol disemua wilayah yg letaknya disebelah barat Eropa, akan tetapi ‘garis Alexander’ digeser sedikit kebarat ke garis 370 mil dari Tanjung Verde, sehingga brasil tetap milik portugal.

-          Wewenang  tertinggi yang diberikan paus kepada raja Spanyol dan raja Portugal disebut ‘hak Pedroado’.
-          Hak Pedroado adalah wewenang tertinggi yang diberikan uskup Roma kepada Raja Spanyol dan Portugal, masing-masing atas bagian bumi yang telah ditentukan dalam perjanjian Alexander.
-          Dalam garis besarnya hak Pedroado tersebut mewajibkan kedua raja tersebut bersangkutan untuk:
1.       Menyebarkan agama Kristiani
2.       Menanggung para misionaris baik secara material maupun finansial.
3.       Menunjuk calon uskup yang akan diangkat oleh Paus.

-          Jika lebih diperinci lagi, maka hak Pedroado menyangkut kewajiban berikut ini:
1.       Merawat serta memperbaiki gedung seperti gereja, kapela, biara dan tempat gerejani lainnya.
2.       Menyediakan segala keperluan lembaga gerejani beserta segala kebutuhan untuk kebaktian.
3.       Memberi nafkah kepada semua petugas gerejani baik rohaniwan maupun awam.
4.       Membangun gedung gereja yang baru seperlunya.
5.       Mengangkat rohaniwan secukupnya guna pelaksanaan segala tugas pelayanan yang suci.

2.    Situasi Gereja:
Jaman VOC
-          Pada abad pertengahan urusan politik dan perdagangan tak terpisahkan dr agama. Di Indonesia niaga sekaligus merupakan jalan perambatan agama-agama. Pada abad ke-17 Tuhan yang Maha Tinggi sering dijadikan Dewa (alasan) pelindung perniagaan,- selama Ia berguna.
-          Sejak Permulaan abad ke-17, VOC mulai merebut pengawasan atas perairan Nusantara. Compagnie atau serikat Niaga itu bertindak seakan-akan memiliki kedaulatan : mengurus hukum, perjanjian Internasional dengan raja dan sultan, malaksanakan perang dan mencetak uang dan di bidang agama VOC menganggap dirinya berwenang untuk “melarang” dan “mengijinkan” segala aktivitas keagamaan sesuai dengan keuntungan perdagangan.
-          Karena saingan serta musuh utamanya adalah portugis dan spanyol, dua negara Katolik, maka VOC yg dikontrol oleh saudagar-saudagar belanda yg  beragama Protestan, melarang segala bentuk ibadah dan pelajaran agama katolik. Para Imam yg sudah bekerja di wilayah-wilayah yang direbut VOC itu diusir, yang baru masuk diancam akan dipenjarakan bahkan dihukum mati. Orang-orang Katolik Belanda tidak diijinkan beribadat bersama atau menjabat posisi-posisi yang tinggi.
-          Kekalahan dan pengusiran orang portugis menimbulkan kegelisahan dikalangan umat katolik pribumi: mereka takut akan tindakan VOC dan sultan-sultan Islam. Ketakutan itu memang beralasan: pegawai VOC dimana-mana mematikan karya-karya misi dan banyak sekali Orang Katolik pribumi mencurahkan darah akibat serangan-serangan kejam dari sultan-sultan.

Jaman Penjajahan Belanda
Perjuangan demi kebebasan agama
-          Permulaan abad ke-19 VOC dibubarkan dan pemerintahan Hindia-Belanda akhirnya mengakui kebebasan beragama. Latar belakangnya adl UU baru yg dikeluarkan akibat Revolusi Perancis. Keadaan baru itu menimbulkan harapan besar akan perbaikan nasib umat Katolik yg sebelumnya mngalami penganiayaan.
-          Pembangunan mengalami banyak halangan: halangan terbesar adalah kecilnya jumlah imam selain itu “kebebasan beragama” yg baru itu belum berarti  kebebasan penuh krn pemerintah sangat kuat. Pemerintah menggaji beberapa imam; shg menganggap dirinya berwenang untuk mengangkat, memindahkan dan menghentikan para imam, seakan-akan mereka pegawai pemerintah belaka. Keadaan itu tidak sehat dan menimbulkan clash.
-          Pada Tahun 1808 dua imam Praja tiba dijakarta dengan ijin pemerintah yaitu Pastor Nelissen dan Pastor Prinzen
Akhir th 1808 pastor Prinzen membuka paroki disemarang, dua tahun kemudian di Surabaya. Namun pemerintah hindia belanda mengawasi setiap tindakan gereja.
-          Pada tahun 1830 kebebasan beragama dan beribadat dijamin oleh pemerintah, “asal pelaksanaannya tidak mengancam ketenangan dan ketertiban umum”.

-          Clash pertama: Pastor J.H. Scholten (sbg  Prefek Aspotolik) dan pejabat gubernur I.C. Baud. Pastor Scolten tidak setuju dan memang menurut hukum gereja, tak boleh membiarkan bahwa orang katolik menjadi anggota perkumpulan FREEMASONRY dan melakukan perkawinan campur tanpa memenuhi syarat-syarat yg di tentukan oleh Gereja. Pastor Scholten yg menggugat Gubernur dibuang dari wilayah Hindia Belanda
-          Untuk mencari sebuah keputusan damai, maka pastor Scholten berangkat ke Roma dan Belanda. Hasil pembicaraan adalah PERSEKATAN antara paus dan Raja Belanda, bahwa daerah Indonesia dilepaskan dari Gereja di Belanda dan mendapat Kepala tersendiri y,i. Vikaris Apostolik J. Grooff.
-          Mgr. Grooff datang dg 3 imam baru yang bekerja di Jakarta, Semarang, dan Surabaya namun ada imam lama yg berperilaku jelek (soal sex), maka uskup baru terpaksa menjatuhkan suspensasi (tindakan me-nonaktif-kan atau membebastugaskan).
-          Kebijaksanaan Mgr. Grooff ini ditentang keras oleh Gubernur, krn hy pemerintah yg berhak mengangkat dan membebas tugaskan para imam. Uskup berpegang teguh pada prinsip, bahwa uskuplah yg memiliki wewenang itu dan sama sekali bukan Gubernur. Mgr. Grooff dicap anti kolonial (Mgr. Grooff mmg bermaksud membebaskan Grj dr pgruh pemerintah). Pada bulan Januari 1846 Mgr. grooff dilarang melaksanakan tugasnya sebagai uskup dan memerintahkan untuk meninggalkan hindia-Belanda bersama dengan empat imamnya yang setia itu dalam waktu dua minggu.
-          Akibatnya: diseluruh Pulau Jawa tak ada seorang imampun lagi yg bekerja dgn sah.
-          Perjuangan Mrg. Grooff tidak sia-sia: pd tahun 1847 tercapai kesepakatan resmi antara Paus dan Pemerintah belanda yg pada pokoknya berisi:
1)       Para imam diangkat oleh uskup, yg sebelumnya dirundingkan dahulu dengan Gubernur, apakah orang yg bersangkutan itu berbahaya untuk “ketenangan dan ketertiban” setempat atau tidak, dan mendapat gaji dari pemerintah
2)       Uskuplah yg mengontrol keuangan Gereja.
-           Sejak waktu ini Gereja Katolik di Indonesia terpisah dan bebas dari pemerintah secara administratif. Gereja berdaulat untuk mengatur organisasi dan kebijaksanaannya menurut kehendaknya sendiri. Hanya beberapa usaha diberikan subsidi oleh pemerintah. Atas kebebasan yang kokoh itu berlangsunglah perkembangan selanjutnya.
            Rangkuman
          Situasi Gereja pada masa penjajahan VOC.
Ø VOC melarang semua bentuk ibadat dalam pelayanan agama Katolik.
Ø Para imam yang bekerja diwilayah yang direbut VOC diusir, dan yg baru masuk diancam dipenjara atau dihukum mati.
Ø Orang-orang Katolik belanda tidak diijinkan beribadat bersama dan menempati posisi jabatan yg tinggi.
          Instruksi kebebasan beragama dikeluarkan oleh Raja Louis dari Perancis, yg diberlakukan untuk perancis. Daerah kekuasaan Perancis dan semua daerah jajahan. Pada waktu itu belanda dijajah Perancis. Kebebasan beragama juga diterapkan di Indonesia karena Indonesia adalah jajahan Belanda. diIndonesia kebebasan beragama ini dijalankan oleh Gubernur Jendral H.W. Daendels (1808-1811)
          Setelah Gereja Katolik mendapatkan kebebasannya untuk bergerak, maka gereja mulai menambah tenaga dengan para misionaris yang bersemangat. Gereja kini mulai merintis jalan untuk membawa warta gembira kesegenap penjuru Nusantara, yg sudah sekian abad terlantar.
          Halangan yg dihadapi gereja a.l. :
Ø Rasa Irihati dari golongan lain.
Ø Sifat acuh tak acuh banyak org katolik statistik dari bangsa Eropa dan Indonesia, terutama golongan Atas.
Ø Pemerintah lebih mengutamakan kepentingan dagang dan usaha, sehingga sering menghalangi kemajuan gereja dalam bidang agama, pendidikan dan sosial.



3)    Katolik di Jawa
Rm. Van Lith-Siapa?
-          Franciscus Georgius Josephus Van Lith atau seringkali disingkat sebagai Frans van Lith (lahir 17 Mei 1863 – meninggal 9 Januari 1926 pada umur 62 tahun) adalah seorang imam Yesuit asal Oirschot, Belanda yang meletakkan dasar karya Katolik di Jawa, khususnya Jawa Tengah.
-          Ia membaptis orang-orang Jawa pertama di Sendangsono, mendirikan sekolah guru di Muntilan, memperjuangkan status pendidikan orang pribumi dalam masa pendudukan kolonial Belanda dan menyelaraskan agama dengan tradisi Jawa sehingga bisa diterima oleh masyarakat Jawa dan bahkan sekarang di Jawa Timur mapun Jateng agama katolik diterima org Tionghoa dan jawa.
-          Van Lith tiba untuk pertama kalinya di Semarang tahun 1896 kemudian belajar budaya dan adat Jawa. Selesai pembekalan, ia ditempatkan di Muntilan sejak 1897. Ia menetap di Desa Semampir di pinggir Kali Lamat.
-          Pada 14 Desember 1904 Van Lith membaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang di Sendangsono, Kulon Progo. Peristiwa ini dipandang sebagai lahirnya Gereja di antara orang Jawa dimana 171 orang menjadi pribumi pertama yang memeluk Katolik. Lokasi pembaptisan ini yang sekarang menjadi tempat ziarah Sendangsono.

Karya2 Rm Van Lith
Pendidikan untuk pribumi
-          Di Semampir ia mendirikan sebuah bangunan gereja dan sebuah sekolah desa yg mulai dari Normaalschool pada tahun 1900, sekolah guru berbahasa Belanda atau Kweekschool tahun 1904 dan kemudian pendidikan guru-guru kepala pada tahun 1906. Sekolah guru untuk penduduk pribumi Jawa ini bisa dimasuki oleh anak Jawa dari mana pun, dari agama apa pun. Pada tahun 1911 dibuka secara resmi seminari (sekolah calon pastor) pertama di Indonesia
-          Gereja kecil dan sekolah desa Semampir kemudian berkembang menjadi satu kompleks gedung-gedung yang pada tahun 1911 dinamai Kolese Franciscus Xaverius. Tahun 1948, kompleks sekolah ini dibakar.
-          Di Klaten Van Lith berusaha mendirikan HIS mskipun mula-mula izin pendirian di Klaten ditolak oleh Asisten Residen (alasan di Klaten telah berdiri HIS Protestan). Shg Pastur Van Lith mengajukan permohonan langsung kepada residen Surakarta. Permohonannya dikabulkan, sehingga pada tahun 1920 HIS Kanisius Klaten didirikan dan kegiatan pembelajaran dilaksanakan di rumah penduduk.
-          Van Lith memperjuangkan pendidikan bagi para pribumi. Ia mengusahakan pengiriman mahasiswa-mahasiswa pribumi ke perguruan tinggi di Belanda dan menganjurkan Yesuit agar mendirikan kolese-kolese untuk pendidikan setara AMS.
Politik
-          Th 1918 ia diangkat menjadi anggota Komisi Peninjauan Kenegaraan Hindia Belanda/ Commissie tot Herziening van de Grondslagen der Staatsinrichting van Nederlandsch-Indië y.i. komisi untuk menata ketatanegaraan di Hindia Belanda yg di bentuk olh pemerintah hindia Belanda di Indonesia. Atas kegiatannya di bidang pendidikan Ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Pendidikan Hindia Belanda dan anggota Komisi Peninjauan Kembali Ketatanegaraan Hindia Belanda.
-          Di lembaga itu Pater Van Lith memperjuangkan kepentingan pribumi dan ini tidak disukai oleh Belanda. Van Lith kemudian kembali ke Belanda pada tahun 1920 untuk memulihkan kesehatan dan dihalang-halangi oleh pemerintah Belanda ketika mau kembali ke Indonesia.
Kembali ke Indonesia
Tahun 1924 ia kembali dan kemudian menetap di Semarang dan mendirikan sekolah HIS dan Standaardschool sambil mengajar para novisiat Yesuit. Van Lith meninggal dunia pada tanggal 17 Mei 1926 di Semarang dan dikebumikan di pemakaman Yesuit di Muntilan.
4)    Nasionalisme dan dampak terhadap Gereja Katolik
Lahirnya Nasionalisme.
Pemikiran baru tentang kebebasan dan hak asasi manusia semakin menggema. Kesadaran nasionalisme juga muncul dikalangan bangsa Indonesia. Kesadaran akan nasionalisme memuncak ketika pada tgl 28 Okt 1928 diadakan konggres pemuda dimana berkumandangkah semboyan ‘satu nusa, satu bangsa, satu bahasa’ yg dicatat sejarah sebagai ‘sumpah pemuda’. Pd tahun 1929 di Surakarta diadakan Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) dimana Sarekat Islam, Budi Utomo dan Persatuan Politik Katolik Jawa bersatu dibawah pimpinan PNI.

5)    Partisipasi orang Katolik dalam bidang Politik
Kegiatan politik orang Belanda katolik di jawa
-          Dijawa pt th 1910-1920 org asing yg katolik lebih banyak daripada org jawa. Mereka membentuk Panitia Katolik sementara utk aksi katolik àpd tahun 1917 mjdi Persatuan Katolik untuk aksi katolik & àtahun berikutnya diubah lagi menjadi ‘Indische Katholieke Partij’ (Partai katolik Hindia) yg mendapat kursi di ‘volksraad’, kursi itu diduduki sorg tokoh belanda. Sudah lebih dahulu sejumlah org Jawa yg Katolik mjdi anggota Budi Utomo.
-          Rm. Van Lith jga mjdi anggota Komisi yg didirikan pemerintah Belanda, dimana Komisi ini bertugas meninjau kembali azas-azas sistem kenegaraan.
Orang jawa Katolik mulai berperan
-          Dalam sebuah brosur Rm. Van Lith meminta dukungan dari org jawa, untuk mencegah tuduhan gereja katolik memihak penguasa kolonial. Brosur itu menggoyahkan masyarakat belanda.
-          Tahun 1923 org jawa yg anggota  gereja katolik membentuk persatuan politik mereka sendiri. Mula-mula kursi mereka di volksraad masih digabung dg kursi Indische Katholieke Partij, tetapi sejak tahun 1925 mereka mempunyai kursinya sendiri.
-          Th 1931 Ignatius Kasimo mulai mewakili Persatuan Politik Katolik Jawa (PPKJ) didalam Volksraad dan Tahun 1936 mewakili Parindra, dg mengusulkan sebuah Konfrensi mengenai rencana Kerja sama indonesia – belanda dlm rangka otonomi bangsa Indonesia dimasa depan. Tetapi hal itu tidak disetujui oleh wakil Indische Partij maupun pemerintah. Sebagai reaksi maka pada tahun 1939 terbentuklah Federasi nasional GAPI (Gabungan Politik Indonesia) atas prakarsa Parindra mengganti PPPKI. Persatuan Politik Katolik Jawapun menjadi anggotanya dg memakai nama baru yakni PPKI (Persatuan Politik Katolik Indonesia) sehingga lebih cocok untuk mencakup anggota yg bukan org jawa.
Orang Katolik dalam masa penjajahan Jepang
-          Perang dunia II mengakibatkan perubahan besar dalam percaturan ppolitik. Kekalahan Belanda dari Jepang menimbulkan kesadaran baru dalam orang Indonesia bhw merekapun sanggup melawan Belanda.
-          Kedatangan jepang yg telah membebaskan mereka dari penjajahan Belanda selama kurang lebih 350 tahun. Ttp kmudian Jepang memperlakukan org Indonesia dg cara yg lebih kejam dari tawanan Belanda.  Salah satu korban kekejaman Jepang terhadap gereja katolik adalah dg ditembaknya Vikaris Apostolik Y Aerts bersama lima pastor dan delapan bruder dikepulauan kei, karena mereka dituduh sbgi mata-mata belanda.
Misionaris ditawan, pribumi tampil
-          Th 1940, jumlah otg Katolik di Indonesia sudah lebih sekitar satujuta org, ketika semua misionaris diinternir olh org Jepang ,gereja katolik diindonesia kehilangan hampir semua imamnya.
-          Sejak tgl 1 Agustus 1940 Albertus Soegijapranata diangkat sebagai vikaris apostolik semarang
-          untuk sedikit mengisi kekurangan imam, maka 25 mahasiswa teologi di jawa dan flores ditahbiskan imam sebelum menamatkan studi mereka.




Gereja di zaman Revolusi
-          Setelah Jepang menyerah kpd sekutu, maka satu demi satu negara bekas jajahan Jepang di Asia tenggara mulai menerima atau merebut kemerdekaannya. Gereja Katolik Roma yg dulu berpihak pd kolonialisme kini mengubah sikapnya
-          Menjelang Proklamasi kemerdekaan, banyak kelompok masyarakat yg masih menyangsikan sikap nasionalisme dari org kristen, baik katolik maupun protestan sbgi kaki tangan pemerintah belanda. Salah satu faktor yg menimbulkan rasa curiga terhadap jemaat katolik adalah sikap  Nederlandse Katolieke Volkspartij (Partai Rakyat Katolik Belanda) dibelanda yg menentang kemerdekaan Indonesia.
Proklamasi kemerdekaan
Peranan Golongan Kristiani
          Sesudah proklamasi Kemerdekaan, Vikaris Apostolik Semarang, A. Soegijapranata, menyatakan syukur atas pendirian Republik Indonesia dan menjanjikan kerjasama yg positif.
          I. kasimo menjadi anggota Komite Nasional Indonesia. Beliau mengetuai Partai Katolik yg ikut aktif mempertahankan Republik & waktu perjanjian Linggarjati I. Kasimo mengusahakan pencegahan terjadinya konflik bersenjata antara indonesia dg Belanda. Beberapa kali I kasimo duduk dalam kabinet sbg menteri & mengambil bagian dlm perang grilya.
          Agustinus Adisoetjipto yg katolik tewas dlm pertempuran udara danslamet Riyadi yg tewas sbgi Komandan tentara angkatan laut di Ambon.
          Pd waktu Soekarno dipenjara pd akhir 1948 sampai Juli 1949, Uskup Soegijapranata menjaga anak & istri Soekarno.
          Juga diluar jawa org katolik memainkan peranan yg penting terutama ditingkat daerah.
          Dari pihak protestan tokoh yg berperan penting dlm politik sekitar revolusi adalah; J. Leimena, TB Simatupang. B. Probowinoto, Sam Ratulangi, AM. Tambunan dsb.

Pendirian hirarki Indonesia
-          Paus Pius XI sangat menaruh perhatian besar dlm misionaris untuk pribumi mk dia mentahbiskan 6 uskup dari Cina. semangat pemribumian gereja katolik inipun menggema dlm gereja katolik di Indonesia.
-          pd tgl 3 Jan 1961 Uskup Roma mendirikan hirarki Indonesia dg menetapkan enam propinsi gerejani yakni : Sumatera, Kalimantan, Nusa Tengara, Jawa Barat, Jawa Timur dan Tengah, serta Sulawesi-Maluku. pd tahun 1966 hirarki didirikan di Irian barat dg Maruke sebagai Keuskupan agung.
Gereja dan Orde Baru.
-          pd bulan Maret 1966 Soekarno menyerahkan wewenang sbgi presiden kpd suharto & meninggal pd th 1970. Dlm Konfrensi th 1966 di Girisonta para waligereja katolik di Indonesia menyatakan mendukung orde baru, ttp di samping itu mengkritik banyaknya korupsi. salah satu sumbangan jemaat katolik kpd orde baru adalah karya sosialnya, khususnya tiga ikatan Pancasilanya yg terbuka untk siapa saja yg mendukung pancasil & ajaran sosial gereja katolik.
Gereja kristiani & identitas nasional
-          th 1967 Mgr. Y. Darmayuwana diangkat menjdi Kardinal Indonesia yg pertama.
-          pengangkatan itu dilihat sbgi tanda penghargaan Uskup Roma terhadap jemaat katolik melainkan dan seluruh bgsa Indonesia.
-          sumbangan jemaat kristiani kpd pembentukan identitas nasional yaitu:
Ø  bersatunya segala macam suku bangsa & golongan masyarakat mjdi satu jemaat atas dasar Injil. Khususnya juga org Cina untk masuk mjdi anggota sbg cita-cita persatuan nasional.
Ø  kritiknya terhadap harapan yg berlebih-lebihan terhadap orde baru olh para uskup misalnya soal tahanan politik.
Ø  persekolahan katolik ikut membangun bangsa dan negara. D
Ø  bidang pers jemaat katolik berjasa dg beberapa penerbitan yg penting, yakni surat kabar Kompas dsb.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar