ariririta.com

Rabu, 06 Maret 2013

Media Massa vs Firman Delapan Dekalog


MORAL DEKALOG
“JANGAN BERSAKSI DUSTA TERHADAP SESAMAMU”
MEDIA MASSA DAN FIRMAN DELAPAN DEKALOG



Oleh:
Stephiana Ari Rita
Tingkat IV/ Semester VII
09.3412/ 09.1421.1665.R


SEKOLAH TINGGI PASTORAL IPI MALANG
2013


 1.       Dekalog
Dekalog (Latin) adalah daftar perintah agama dan moral, yang merupakan sepuluh perintah yang ditulis oleh Tuhan dan diberikan kepada bangsa Israel melalui perantaraan Musa di gunung Sinai dalam bentuk dua loh (tablet) batu. Dekalog disebut juga dengan Sepuluh Perintah Allah, Sepuluh Firman Allah, atau Dasa Titah. Dekalog dapat ditemukan dalam Keluaran 20:2-17 dan Ulangan 5:6-21. Kitab Keluaran perintah mengatakan untuk merayakan hari Sabat merujuk pada kisah pekerjaan TUHAN Allah pada Penciptaan. TUHAN Allah sendiri bekerja selama enam hari dalam menciptakan langit, bumi dan segala isinya, dan pada hari yang ketujuh TUHAN berhenti bekerja dan memberkati hari itu (Keluaran 20:10-11). Sementara itu dalam Kitab Ulangan, perayaan hari Sabat merujuk pada kisah pembebasan Israel dari perbudakan di Mesir. Hari Sabat harus dirayakan untuk memberikan kesempatan beristirahat kepada setiap hewan yang ada karena bangsa Israel sendiri pun dulunya adalah bangsa budak yang kemudian diberikan kebebasan oleh Allah.
Dalam umat Kristiani sendiri, terdapat perbedaan pembagian Sepuluh Perintah Allah. Pembagian Sepuluh Perintah Allah di kalangan Katolik Roma dan Lutheran mengikuti pembagian yang ditetapkan oleh Santo Agustinus. Ketiga perintah pertama mengatur hubungan Allah dan manusia. Perintah keempat sampai kedelapan mengatur hubungan manusia dengan sesama. Dua perintah terakhir mengatur pikiran pribadi.
Pembagian Sepuluh Perintah Allah
Perintah
Yahudi
Ortodoks
Katolik Roma, Lutheran*
Anglikan, Reformasi, dan Protestan Lain
Akulah TUHAN, Allahmu ...
1
1
1
kata pengantar
Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
2
1
Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun ...
2
Dijelaskan dalam Katekismus Gereja Katolik
2
Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan ...
3
3
2
3
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat ...
4
4
3
4
Hormatilah ayahmu dan ibumu ...
5
5
4
5
Jangan membunuh
6
6
5
6
Jangan berzinah
7
7
6
7
Jangan mencuri
8
8
7
8
Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu
9
9
8
9
Jangan mengingini rumah sesamamu ...
10
10
9
10
(Jangan mengingini milik sesamamu)
10
Teks resmi Sepuluh Perintah Allah untuk Gereja Katolik adalah sebagai berikut:
1.       Akulah Tuhan, Allahmu, Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.
2.       Jangan menyebut Nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat.
3.       Kuduskanlah hari Tuhan.
4.       Hormatilah ibu-bapamu.
5.       Jangan membunuh.
6.       Jangan berzinah.
7.       Jangan mencuri.
8.       Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.
9.       Jangan mengingini istri sesamamu.
10.   Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.
2.       Perintah Delapan: Jangan Bersaksi Dusta Terhadap Sesamamu
.Bagi orang Israel, makna hukum sungguh penting. Hal ini dikaitkan dengan perjanjian mereka dengan Yahwe yang berkehendak untuk menyelamatkan Israel dari perbudakan. Kesengsaraan dan penderitaan yang dialami umat Israel di masa perbudakan adalah suatu pengalaman pahit. Firman kedelapan ini terdapat dalam Kel 20:16 atau sama dengan Ul 5:20. Maksud dari firman jangan mengucapkan saksi dusta mengacu kepada perihal pengadilan yang ada di Israel pada zaman itu. Pengadilan di Israel berbeda sekali (menunjukkan perbedaan yang sangat significant) dengan pengadilan yang ada di negara Indonesia.    
Pengadilan yang ada di Israel itu seperti pengadilan yang ada dalam keluarga (artinya: mengandalkan kekeluargaan dan kepercayaan di antara anggota keluarga). Pengadilan yang sederhana dalam bangsa Irael bukanlah pengadilan yang paling baik dan banyak nilai positif di dalamnya, melainkan ternyata dalam type tersebut menimbulkan permasalahan yang berakibat sangat fatal. Pengadilan di Israel itu diselesaikan pada pintu gerbang kota atau istana, dan itupun dipimpin oleh penatua ataupun oleh raja. Di sini tidak ada proses yang diatur oleh undang-undang. Maka dari itu dipentingkan pernyataan yang benar oleh saksi-saksi. Kesaksian itu adalah satu-satuya sarana biasa untuk menemukan kebenaran. Nyawa, nama baik dan milik seseorang dapat bergantung pada tuduhan dua saksi yang berdusta.
Perintah kedelapan memberi tekanan akan hormat pada kejujuran dan kebenaran dibarengi dengan pertimbangan kasih dalam bidang komunikasi dan menyebarkan informasi yang memperhatikan kebaikan pribadi dan umum, perlindungan terhadap kehidupan pribadi dan bahaya skandal (Kompedium Katekismus Gereja Katolik). Dalam perintah ini melarang kesaksian palsu, sumpah palsu dan dusta; penilaian yang terburu-buru, menjelekkan nama dan fitnah; merayu, membujuk dan bermanis bibir.
Firman ini juga melarang orang untuk berdusta, artinya orang mengatakan yang tidak benar dengan maksud  untuk menyesatkan. Dusta berasal dari iblis: “Iblislah bapamu, …. Ia tidak pernah memihak kebenaran, sebab tidak ada kebenaran padanya. Kalau ia berdusta, itu sudah wajar karena sudah begitu sifatnya. Ia pendusta dan asal segala dusta” (Yoh. 8,44). (Bdk. Kat. 2482). “dusta adalah pelanggaran paling langsung terhadap kebenaran. Berdusta berarti berbicara atau berbuat melawan kebenaran untuk menyesatkan seseorang yang mempunyai hak untuk mengetahui kebenaran” (Kat. 2483).
Firman ini juga melarang orang untuk memfitnah, yaitu menyampaikan kesalahan dan pelanggaran seseorang  kepada orang lain yang tidak tahu menahu mengenai hal itu tanpa dasar yang obyektif dan sah;  membuat penilaian yang lancang, tanpa bukti yang memadai.(Bdk. Kat. 2477)
Firman jangan bersaksi dusta tentang sesamamu juga mau membangun tata hidup bersama atas dasar kebenaran dan saling percaya. “Manusia tidak dapat hidup bersama dalam suatu masyarakat  kalau tidak saling mempercayai, sebagai orang yang menyatakan kebenaran satu sama lain” .
Di samping itu, firman kedelapan ini juga mengajak orang untuk  tidak berbohong kepada diri sendiri, tidak mentolerir kesalahan diri sendiri. Kita harus menghindari sikap munafik.
3.       Media Massa dan Perintah Delapan Dekalog
Firman kedelapan “ Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu” dalam pemahaman selanjutnya tidak hanya terbatas pada perkara pengadilan yang harus dilakukan secara benar dan adil, tetapi juga menunjuk pada ajakan untuk hidup dalam kebenaran. Hidup dalam kebenaran adalah konsekuensi dari iman kepada Allah, yang adalah sumber segala kebenaran, bahkan kebenaran tertinggi. Perintah kedelapan ini juga mau mengajak orang untuk tidak menipu dan berbohong pada diri sendiri, sesama dan Allah.
Berkaitan dengan hak atas informasi, maka hak tersebut harus diarahkan oleh kebenaran, kebebasan, cinta kasih dan solidaritas. Dalam kaitan dengan persoalan ini, KV II melalui Inter Mirica (IM) mengatakan:
“Di dalam masyarakat manusia terdapat hak atas informasi mengenai hal-hal yang sesuai dengan manusia baik perorangan maupun tergabung dalam masyarakat, menurut situasi masing-masing. Akan tetapi, pelaksanaan hak ini secara tepat menuntut agar mengenai isi, komunikasi selalu benar dan utuh, sambil memperhatikan keadilan dan cinta kasih. Selain itu, mengenai caranya, hendaklah berlangsung dengan jujur dan memenuhi syarat; maksudnya, hendaknya komunikasi itu mengindahkan sepenuhnya hukum-hukum moral, hak-hak manusia yang semestinya serta martabat pribadinya, baik dalam mencari maupun dalam menyebarkan berita; karena bukan semua pengetahuan menguntungkan, hanya cinta membangun’ (1 Kor 8:1)“ (IM 5)
Media massa berpotensi mewakili kebenaran, menegaskan issue, dan menyajikan trend baru. Di dalamnya, terdapat berbagai kepentingan mulai dari harga diri sampai politik. Apa yang ditawarkan oleh media mampu menyentuh emosi pembaca dan menjadi rangsangan yang berdampak dalam hidup sosial, terlebih yang berkaitan dengan bagaimana cara manusia memandang.
Misalnya saja jika Kompas tidak memberitakan banjir yang melanda di Jakarta, mungkin taidak akan ada orang yang memandan randah ibu kota. Jika Infotainment tidak mendesuskan bagaimana Ariel dan istrinya akan bercerai, mungkin nama Luna Maya tidak dimasukkan ke dalam kategori wanita penggoda. Singkatnya, media massa memiliki potensi sebagai referensi yang menjadi acuan dalam banyak hal.
Disisi lain, ada yang mengacu kepada media massa untuk mengerjakan tugas akhir. Ada yang menjadikan media massa sebagai inspirasi bagi orang kuper untuk sanggap bergaul dengan cakrawala pandang yang lebih modis.
Sebagai suatu sarana, media massa jangan sampai dikenalkan dengan dusta. Dalam hal ini, sungguh semakin disadari betapa pentingnya media massa sebagai penampung data yang berpengaruh pada perubahan dunia.
Karena itu, informasi yang diberikan dalam media massa harus bertujuan demi kebaikan umum. Isinya harus benar dan dalam batas-batas keadilan kasih. Terlebih, infromasi harus dikomunikasikan sejujurnya dan semestinya dengan sungguh menghormati hukum moral dan hak serta martabat manusia (KGK).
Mereka yang bertanggung jawab dalam bidang percetakan dan media massa/informasi mempunyai kewajiban moril untuk memperhatikan kebenaran dan kasih dalam memberikan informasi yang proporsional, akurat, tepat dan tidak menyesatkan serta tidak meresahkan dan mengganggu kesejahteraan umum.  Tugas luhur mereka yang terlibat dalam pelayanan  penyebarluasan informasi adalah membentuk opini publik yang sehat, membentuk suara hati yang benar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar