ariririta.com

Sabtu, 23 Februari 2013

SEJARAH GEREJA PERDANA ABAD 1-3



BAB I
PENDAHULUAN
Sejarah gereja Kristen sepanjang dua ribu tahun mulai dari negara Israel hingga ke Eropa, Amerika, dan Indonesia sangat menarik untuk dicermati. Sejarah gereja dipengaruhi oleh tokoh-tokoh gereja yang tidak terbilang banyaknya, dan juga menimbulkan kejadian-kejadian yang mengubah alur sejarah dunia. Tanggal-tanggal terpenting dalam sejarah gereja dan kekristenan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Gereja.
Hal inilah yang mendorong penulis untuk mencermati secara lebih mendalam tokoh-tokoh dan peristiwa yang terjadi pada abad awal yaitu abad 1-3. Pada abad ini Gereja berusaha untuk mempertahankan diri terhadap perbagai ajaran lain yang berkembang dan pada penganiayaan yang terjadi dari pemerintah sekitar dalam judul “GEREJA PERDANA ABAD 1-3: TOKOH DAN PERISTIWA PENTING”
1.1 Latar Belakang Masalah
1. Siapa tokoh-tokoh penting yang mempengaruhi Gereja Perdana pada abad 1-3?
2. Apa peristiwa yang terjadi pada tokoh-tokoh penting abad 1-3?
1.2 Tujuan
1. Mengetahui tokoh-tokoh penting yang mempengaruhi Gereja Perdana pada abad 1-3.
2. Menguraikan peristiwa yang terjadi pada tokoh-tokoh penting abad 1-3.



















BAB II
PEMBAHASAN
2.1      Stefanus
2.1.1 Riwayat Hidup
Santo Stefanus diperkirakan lahir pada abad ke-1. Ia seorang Kristen Yahudi yang tinggal di Yerusalem dan bisa berbahasa Yunani. Satu-satunya sumber tentang Stefanus adalah Kisah Para Rasul bab 6 dan bab 7. Di dalamnya Stefanus ditampilkan sebagai tokoh beriman yang kokoh dan penuh dengan Roh Kudus. Dia adalah salah satu dari ketujuh pria yang dipilih untuk mengurus rumah tangga jemaat dan distribusi bantuan bagi janda-janda tua dalam komunitas jemaat. Peranan ini dikenal dikemudian hari sebagai diakon atau pelayan meja. Selain itu, dia adalah  seorang yang memiliki karunia sebagai penginjil (evangelis). Dia berkhotbah tentang ajaran Yesus di hadapan umum di Yerusalem termasuk kepada anggota sinagoga Helenistis (bdk. Kis6:1-6).

2.1.2 Kemartiran
Stefanus dikenal sebagai Protomartyr (atau martir pertama) dalam Kekristenan. Dia diadili oleh Sanhedrin dengan tuduhan menghujat Nabi Musa dan Allah serta berkata-kata menentang Bait Allah dan Hukum Taurat. Hukuman yang diterimanya adalah dirajam sampai mati oleh sekelompok massa yang marah. Mereka meletakkan jubahnya di kaki seorang muda bernama Saulus dari Tarsus, yang kelak dikenal sebagai Santo Paulus. Saulus hadir disana dan memberi restu terhadap hukuman itu.
Kemartiran Stefanus terjadi 8 tahun setelah penyaliban Tuhan Yesus, yaitu pada tahun 35 M. Menjelang ajalnya, Stefanus suatu teofani (penampakan Allah kepada manusia). Teofani yang dialaminya bersifat unik karena dia menyaksikan baik Sang Bapa maupun Sang Putera. Katanya, "Aku melihat langit terbuka, dan Anak manusia berdiri di sebelah kanan Allah." (bdk Kis 7:56). Senjata utama yang digunakan Stefanus untuk melawan musuh adalah cintanya akan Tuhan. Bahkan dalam penderitaan terakhir hidupnya, ia mengeluarkan kata pengampunan bagi orang-orang yang menyiksanya: “Tuhan, janganlah dosa ini Engkau tanggungkan kepada mereka itu.”
                        Kebencian mereka terhadap Stefanus menyebabkan timbulnya penganiayaan besar terhadap semua orang yang mengaku percaya kepada Kristus sebagai Mesias. Lukas mencatat, "Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria." (bdk. Kisah Para Rasul 8:1). Sekitar 2.000 orang Kristen menjadi martir, termasuk Nikanor, satu dari tujuh diakon yang diangkat gereja (bdk. Kisah Para Rasul 6:5).
Nama Stefanus berasal dari Bahasa Yunani Stephanos, artinya "mahkota", yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Aram menjadi Kelil. Santo Stefanus secara tradisional digelari mahkota kemartiran Kristen dan kerap dilukiskan dalam seni dengan tiga buah batu beserta dahan palem para martir. Santo Stefanus diperingati setiap tanggal 26 Desember dan dihormati sebagai santo dalam Gereja Katolik serta Gereja Ortodoks.
2.2 Paulus dari Tarsus
2.2.1 Riwayat Hidup
Paulus merupakan seorang Yahudi kelahiran Tarsus-sebuah kota yang terkemuka zaman itu di wilayah Kilikia (sekarang Turki)- dibesarkan di Yerusalem dan dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel. Diperkirakan ia lahir pada dekade pertama abad I, yakni 5-10 tahun setelah Yesus lahir. Pada masa mudanya, ia hidup sebagai seorang Farisi menurut aliran pemikir yang paling keras dalam agama Yahudi. Tarsus terletak hanya 1,2 km dari Laut Tengah. Oleh karena itu, Tarsus menjadi kota pusat perdagangan. Selain itu Tarsus juga menjadi kota ilmu pengetahuan. Diperkirakan ia lahir pada dekade pertama abad I, yakni 5-10 tahun setelah Yesus lahir. Seperti halnya orang-orang Yahudi pada masa itu, Paulus sejak lahir telah memiliki dua nama yakni satu nama Ibrani (Sya’ul, yang kemudian ditransliterasikan menjadi Saulus) dan satu lagi nama Yunani atau Romawi (Paulus). Penggunaan kedua nama ini sebagai pembeda antara Saulus yang belum ‘bertobat’ (bergerak di kalangan Yahudi) dan Paulus yang sudah ‘bertobat’ (bermisi di kalangan bukan Yahudi) merupakan strategi literer dari pengarang Kisah Para Rasul.
Paulus tumbuh besar dalam lingkungan helenis dan juga memelihara secara sungguh tradisi Yahudi yang mengalir dalam dirinya. Ia merupakan orang yang terpelajar dan pintar dalam retorika. Paulus secara sah memiliki kewarganegaraan Romawi dari sejak lahir. Kemungkinan besar kewarganegaraan ini diberikan kepada keluarganya karena pengabdian orang tua atau leluhurnya kepada pemerintah Romawi.
2.2.2 Pelayanan Misi Paulus
Paulus diakui sebagai tokoh penting dalam penyebaran dan perumusan ajaran kekristenan yang bersumberkan dari pengajaran Yesus Kristus. Sebelum bertobat Paulus adalah penganiaya umat Kristen mula-mula. Ia seorang Farisi yang taat kepada Hukum Taurat secara penuh. Pertobatan Paulus diperkirakan antara tahun 33-36 M. Bagi Paulus, titik balik yang mengubah seluruh hidupnya adalah pengalaman akan Kristus yang bangkit saat perjalanan menuju Damsyik. Perjumpaannya dengan Tuhan (kyrios) itulah yang menjadi motivasi dasar dari panggilan hidupnya sebagai seorang rasul (bdk Gal. 1:16).
Dalam Kisah Para Rasul, perjalanan misi Paulus di Asia Kecil dan Yunani disajikan dalam tiga putaran. Perjalanan misi pertama berlangsung dari tahun 46-49. Paulus dan Barnabas pergi ke Siprus, Pafos, Perga, Antiokhia di Pisidia, Ikonium, Listra dan Derbe. Masalah besar yang muncul yakni soal integrasi banyaknya orang Kristen bukan Yahudi ke dalam jemaat Kristen Yahudi, terutama masalah tentang sunat dan menaati hukum Taurat.
Terhadap masalah ini, Paulus bersama dengan Barnabas, para rasul, dan penatua mengadakan sidang/konsili di Yerusalem, tahun 49. Hasilnya, dinyatakan bahwa sunat tidak merupakan persyaratan keselamatan. Bangsa-bangsa lain tidak boleh dibebani dengan sunat dan Taurat. Mereka diselamatkan Allah ketika percaya kepada Kristus.
Konsili ini menghasilkan beberapa keputusan penting, misalnya:
1.    untuk menikmati karya penyelamatan Yesus, orang tidak harus menjadi Yahudi terlebih dahulu
2.    orang-orang Kristen yang bukan berasal dari latar belakang Yahudi tidak diwajibkan mengikuti tradisi dan pantangan Yahudi (misalnya perihal tentang sunat dan memakan makanan yang diharamkan).
3.    Paulus mendapat mandat untuk memberitakan Injil ke daerah-daerah berbahasa Yunani.
Pasca sidang Yerusalem, di Antiokhia, muncul permasalahan baru yakni perihal berlakunya aturan makan Yahudi (makan kosher) bagi anggota bukan Yahudi. Alhasil, Yakobus, tanpa sepengetahuan Paulus, mengirim surat kepada jemaat di Antiokhia, Siria, dan Kilikia yang berisi rekomendasi bahwa orang bukan Yahudi harus menjauhkan diri dari makanan persembahan kafir, darah, daging binatang yang mati tercekik, dan percabulan (Kis. 15:22-29).
Dalam perjalanan misi yang kedua (tahun 50-52), Paulus ditemani oleh Silas, Timotius, dan Lukas. Mereka antara lain bermisi ke Filipi, tempat jemaat pertamanya di Eropa, Tesalonika, Atena, Korintus, Efesus, dan Kaisarea. Dia memutuskan untuk pergi ke Eropa, dan di Makedonia ia mendirikan komunitas Kristen pertama Eropa: Jemaat Filipi. Juga di Tesalonika, Berea, Atena dan Korintus. Dia tinggal selama 1,5 tahun di Korintus, di rumah sepasang suami-isteri, Akwila dan Priskila (Kisah Para Rasul 18:11). Masa tinggalnya ini bersamaan dengan waktu Galio menjabat singkat sebagai gubernur (prokonsul) di Akhaya dari 1 Juli 51 sampai 1 Juli 52. Paulus mengalami penolakan oleh para cendekiawan di Atena, namun misinya cukup berhasil di Korintus. Di sana, ia mendirikan jemaat yang penuh semangat. Dari kota inilah, Paulus tampaknya menulis surat pertama kepada jemaat di Tesalonika (tahun 51). Setelah itu, ia kembali lagi ke Antiokhia.
Perjalanan misinya yang ketiga (tahun 54-58) dimulai dengan pergi ke Efesus. Paulus menjadikan kota itu sebagai pusat aktivitas misionernya selama tiga tahun (Kis. 20:31). Di kota ini, Paulus menulis beberapa surat yakni surat kepada jemaat di Galatia, surat kepada jemaat di Filipi, dan surat kepada Filemon. Pada masa itu, jemaat Korintus sedang terpecah-belah. Paulus mencoba untuk menyatukan jemaat kembali dengan mengirim lima surat, mengadakan kunjungan, serta mengajak jemaat untuk mengumpulkan dana bagi orang miskin di Yerusalem.
2.2.3 Akhir Hidup Paulus
Paulus tiba di Yerusalem tahun 57 membawa uang sumbangan yang dikumpulkan untuk jemaat di sana dari kota-kota yang dikunjunginya.[7] Ia disambung hangat, tetapi juga ditanya dengan teliti oleh Yakobus mengenai tuduhan bahwa ia "mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat" Yahudi (Kis 21:21). Paulus dianjurkan untuk melakukan upacara pentahiran, supaya "semua orang akan tahu, bahwa segala kabar yang mereka dengar tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap memelihara hukum Taurat."
Tidak berapa lama setelah sampai di Yerusalem, Paulus ditangkap dengan tuduhan membawa orang-orang bukan Yahudi ke dalam Bait Allah. Paulus dibawa ke markas tentara Romawi dan dihadapkan kepada gubernur Romawi Antonius Feliks di Kaisarea. Ia ditahan selama 2 tahun, sampai gubernur yang baru, Perkius Festus, membuka kembali kasusnya pada tahun 59. Karena tidak mau diadili di Yerusalem, Paulus menyatakan banding kepada Kaisar, sehingga kemudian ia dikirim ke Roma dengan naik kapal.
Selama 2 tahun, ia menjadi tahanan rumah dan menurut tafsiran tradisional, pada periode ini, ia menulis surat Paulus kepada Filemon, Kolose, dan Efesus. Sementara itu, Surat-Surat Pastoral (Titus, 1-2 Timotius) diperkirakan ditulis setelah ia dibebaskan dari tahanan rumah. Tahun kematian Paulus tidak begitu jelas. Eusebius memberi kesaksian bahwa Paulus ditahan untuk kedua kalinya di Roma dan kemudian menjadi martir pada masa kaisar Nero, yakni sekitar tahun 67.
Paulus dijadikan seorang Santo (orang suci) oleh seluruh gereja yang menghargai santo, termasuk Katolik Roma, Ortodoks Timur, dan Anglikan, dan beberapa denominasi Lutheran. Dia berbuat banyak untuk kemajuan Kristen di antara para orang-orang bukan Yahudi, dan dianggap sebagai salah satu sumber utama dari doktrin awal Gereja, dan merupakan pendiri kekristenan bercorak Paulin/bercorak Paulus. Surat-suratnya menjadi bagian penting Perjanjian Baru. Banyak yang berpendapat bahwa Paulus memainkan peranan penting dalam menjadikan agama Kristen sebagai agama yang berdiri sendiri, dan bukan sebagai sekte dari Yudaisme.
2.2.4 Surat-Surat Paulus
Sebagai alat komunikasi dengan komunitas-komunitas Kristen perdana, Paulus menulis surat-surat kepada mereka. Selain itu, surat-surat ini juga penting karena berisi uraian teologisnya. Ada 13 surat dalam Perjanjian Baru yang menunjukkan Paulus sebagai penulisnya. Namun, saat ini para ahli Perjanjian Baru berdebat menentukan mana surat yang ditulis sendiri oleh Paulus (surat-surat Pauline) dan mana surat yang mengatasnamakan dirinya sebagai penulis (surat-surat Deutero-Pauline). Kesepakatan yang diterima secara umum di kalangan para ahli Perjanjian Baru mengenai surat-surat Paulus adalah sebagai berikut:
Surat-surat Paulus
1.         Surat 1 Tesalonika
2.         Surat 1 Korintus
3.         Surat 2 Korintus
4.         Surat Galatia
5.         Surat Roma
6.         Surat Filipi
7.         Surat Filemon
Surat-surat Deutero Pauline
1.      Surat Kolose
2.      Surat Efesus
3.      Surat 2 Tesalonika
4.      Surat 1 Timotius
5.      Surat 2 Timotius
6.      Surat Titus
2.3 Kaisar Nero
2.3.1    Riwayat Hidup
Nero Claudius Caesar (37-68) adalah salah satu kaisar Roma yang terkenal karena keburukannya. Dia adalah adalah kaisar Romawi kelima dan terakhir dari dinasti Julio-Claudian. Dia lahir pada 15 December 37 dengan nama Lucius Domitius Ahenobarbus, ibunya bernama Agrippina (15-59) dan ayahnya Gnaeus Domitius Ahenobarbus (+40). Kakek Nero, Lucius Domitius Ahenobarbus (+48 BC), adalah orang yang terkenal sadis dan kejam. Ayah Nero, Gnaeus, bahkan lebih kejam lagi. Dia bisa membunuh orang hanya karena menolak perintahnya untuk minum sebanyak yang dia minta, dan di saat yang lain, dia melukai mata orang yang berani mengkritik dia.
Ibunda Nero adalah seorang wanita yang ambisius dan memiliki trauma masa kecil karena kematian saudaranya akibat di bunuh oleh kaisar Tiberius. Ketika berumur 3 tahun, ayah Nero yang kejam meninggal. Kemudian, banyak harta dan hak keluarganya di rampas oleh kaisar Roma saat itu, Caligula dan Nero serta keluarganya hidup dalam kemiskinan. Pada tahun 41, Agrippina di panggil oleh kaisar berikutnya, pamannya sendiri, Claudius (10 BC-54 AD). Setelah kembali ke kota, Agrippina menikah dengan Passienus Crispus yang kaya. Setelah kematian suaminya tidak lama setelah pernikahannya, Agrippina mewarisi kekayaannya. Tahun 48, permaisuri Messalina di hukum mati karena sebuah kesalahan, dan kaisar Clauidius kemudian menikahi Agrippina setahun kemudian.
Setelah kematian Clauidius, Agrippina dengan cerdik merancang rencana sehingga akhirnya Nero bisa menjadi kaisar Roma menggantikan Claudius. Saat menjadi kaisar, Nero telah menikah dengan Oktavia.

2.3.2 Tragedi Nero
Nero adalah gladiator. Kaisar berhati kejam dan zalim. Kekejamannya segera di mulai saat dia mulai memerintah. Pada 11 February 55, Nero meracuni saudara tirinya yang berusia 14 tahun, Brittanicus saat makan malam. Dia mengklaim bahwa saudaranya terkena serangan epilepsi. Brittannicus di kubur diam-diam keesokan harinya. Tahun 62, Nero meracuni salah satu pelayan setianya, Doryphorus. Kegilaan Kaisar Nero semakin menjadi-jadi ketika pada tahun 59, dia menginginkan kematian ibunya sendiri. Dia menyusun rencana dengan menaikkan sang ibu ke dalam kapal dan menenggelamkan kapal tersebut di lauta. Saat itu, sang ibu, Agrippina mampu menyelamatkan diri dengan berenang ke pantai. Tetapi kelak kemudian , Nero berhasil membunuh ibunya sendiri.
Seiring waktu, kaisar Nero menjadi seorang megalomaniac. Pengadilan di abaikan dan pajak di naikkan. Kaisar Nero mempunyai ketertarikan dan obsesi yang besar pada teater dan balap kereta kuda. Dia suka mengurung penduduk Roma di dalam teater dan memaksa mereka untuk mendengarkan cerita atau nyanyian Nero. Pada tahun 60 dan 65 dia mengadakan festival dan memperkenalkan epik karyanya "Troica" yang bercerita tentang perang Trojan. Dia suka menyanyikan lagu karangannya sendiri dan menyanyikannya bersama kelompok musik pribadinya. Di teater dan sirkus pribadinya, dia biasa menjadi seorang penunggang kereta kuda atau sebagai aktor. Dia juga biasa mengorbitkan bintang muda, tetapi segera menjadi cemburu apabila bintang tersebut sukses.
Pada bulan Juli 64, kebakaran besar melanda Roma. Rumor yang beredar mengatakan bahwa kebakaran tersebut sengaja di buat oleh Nero agar ada tempat baginya untuk membangun istana baru. Setelah kebakaran tersebut, Nero segera membangun kembali Roma dengan proyek raksasa pembangunan istana yang di kenal sebagai rumah emas yang dia maksudkan sebagai pelengkap tahtanya. Proyek tersebut adalah sebuah proyek rumit yang terdiri dari istana dan paviliun yang didirikan bersama dengan sebuah danau buatan dan seribu patung perunggu Nero. Proyek tersebut memiliki desain dan konsep yang revolusioner.
Kekejamannya ini menumbuhkan berbagai gerakan pemberontakan. Tetapi, setiap yang melawan Kaisar Nero akan disalibkan. Atau diikat dengan kulit binatang dan dilemparkan ke arena untuk dicabik-cabik serigala, malah kerap dijadikan tontonan. Menurutnya, mengusir orang Kristen tidak cukup membakar sarangnya tetapi dengan orangnya. Setiap orang yang memberontak dilemparkan ke kandang binatang buas, atau diikat di tiang-tiang Taman milik Nero. Kemudian, tubuh mereka dilumuri ter (minyak) lalu dibakar. Tubuh yang terbakar itu menjadi lampu penerang bagi Taman. Pada masa inilah Paulus ditangkap.
Ketika Rasul Paulus ditangkap di Roma, pemuka agama Yahudi di kota tersebut tidak tahu-menahu tentang adanya komunitas Kristen ini (Kis 28:22). Setelah beberapa saat dibebaskan, dalam perjumpaan Paulus dengan Aqwila mengatakan, ingin segera pergi ke Roma. Harus melihat Roma lagi (Kis 19:21). Keinginan Paulus punya alasan, sebab di kota ini banyak jemaat Kristen mengalami penyiksaan. Dua Rasul, Petrus dan Paulus mati dibunuh di masa pemerintahan Nero, keduanya menjadi martir. Petrus di salib dengan kepala ke bawah.
Pada musim semi, pemberontakan terhadap dirinya di mulai di propinsi yang keberatan dengan tingginya pajak. Pemberontakan itu segera berpengaruh dan rakyat Romawi mulai memberontak terhadap Nero. Tak lama kemudian, senat menetapkan Nero sebagai musuh rakyat. Pada saat itu, penasehat utama Nero, Tigellinus sedang sakit berat dan Nero kehilangan keberaniannya. Nero ingin melarikan diri dengan kapal, tetapi pengawalnya menolak permintaan Nero untuk mempersiapkan kapal tersebut. Ketika para prajurit menangkapnya pada 9 Juni, dia menusuk lehernya sendiri dengan pisau. Kaisar Nero di makamkan di kuburan keluarga di Domitii, bukit Pincian. Istri ketiganya, Statilia Messalina, meninggalkan Nero sebelum peristiwa itu dan kekasihnya, meninggalkan Roma dan bunuh diri setahun kemudian.
2.4 Titus Flavius Vespasianus
Titus Flavius Vespasianus (lahir 30 Desember 39 – meninggal 13 September 81 pada umur 41 tahun) dikenal sebagai kaisar Titus adalah Kaisar Romawi (79-81) dari dinasti Flavia. Ia menjabat dalam periode pendek dan menjadi kaisar pada masa akhir Tahun Empat Kaisar. Ia berkampanye memerangi Yudea dan memulai konstruksi pembangunan Colosseum yang megah. Ia merupakan anak dari Titus Flavius Vespasianus yang sering disebut sebagai kaisar Vespasianus.
Di Yerusalem, kepala Bait Allah menyatakan pemberontakan terbuka melawan Roma dengan menghentikan persembahan harian untuk Kaisar. Tidak lama kemudian seluruh Yerusalem menjadi rusuh; pasukan Romawi diusir dan dibunuh. Yudea memberontak, kemudian Galilea. Untuk sementara waktu tampaknya orang-orang Yahudi unggul.


Kaisar Nero mengirim Vespasianus, seorang jenderal yang dianugerahi banyak bintang jasa, untuk meredam pemberontakan.Akan tetapi sebelum menjatuhkan Yerusalem, Vespasianus dipanggil pulang ke Roma. Nero wafat. Pergumulan untuk mencari pengganti Nero berakhir dengan keputusan Vespasianus sebagai Kaisar. Titah kekaisaran pertamanya ialah penunjukan anaknya, Titus, untuk memimpin Perang Yahudi.

Maka Yerusalem pun menjadi sasaran empuk setelah terpisah dari daerah-daerah lain. Beberapa faksi (kelompok) dalam kota itu sendiri berebut mengatur strategi pertahanan. Ketika pengepungan sedang berlangsung, penduduk kota pun satu demi satu mati karena kelaparan dan wabah penyakit. Istri imam kepala yang biasanya menikmati kemewahan, turun ke jalan untuk memungut sisa makanan.

Akhirnya, orang-orang Romawi merobohkan tembok lapisan luar, kemudian lapisan kedua dan akhirnya yang ketiga. Namun orang-orang Yahudi masih berperang sambil merangkak menuju Bait Allah sebagai garis pertahanan terakhir.

Itulah akhir bagi para pejuang Yahudi yang gagah berani dan Bait Allah mereka. Sejarawan Yahudi, Josephus menjelaskan bahwa Titus ingin melindungi Bait Allah tersebut, tetapi prajurit-prajuritnya begitu marah terhadap musuh mereka sehingga mendorong mereka membakar Bait Allah.

Jatuhnya Yerusalem mengakhiri pemberontakan. Orang-orang Yahudi dibantai atau ditangkap serta dijual sebagai budak. Gerombolan orang Zelot yang menduduki Masada bertahan di situ selama tiga tahun. Ketika orang-orang Romawi membangun lereng pengepungan dan menyerbu benteng pegunungannya, mereka menemukan orang-orang Zelot mati bunuh diri sebagai penolakan menjadi tawanan orang asing.

2.5 Ignatius dari Antiokhia
2.5.1 Riwayat Hidup
Ignatius lahir sekitar tahun 53 M. Santo Ignatius adalah Uskup Antiokhia sesudah Santo Petrus dan St. Evodius (yang wafat sekitar tahun 67 Masehi). Eusebius mencatat bahwa St. Ignatius menggantikan St. Evodius. Ia merupakan salah seorang Bapa Apostolik, dan Patriark Antiokhia ke-3. Menurut tradisi, Ignatius merupakan salah satu murid Rasul Yohanes.[3] Oleh karena kesalehannya, ia diangkat menjadi Uskup Antiokhia menggantikan Petrus. Suksesi Apostolik Ignatius bahkan lebih langsung lagi, karena Theodoret (Dial. Immutab., I, iv, 33a) mencatat bahwa Pertus sendiri yang menunjuk Ignatius untuk menduduki tahta Antiokhia.
Sebutan lain untuk dirinya adalah Teoforus yang berarti "Pemanggul Tuhan" dan menurut tradisi dia adalah salah satu dari anak-anak yang digendong dan diberkati Yesus. St. Ignatius mungkin adalah murid dari Rasul Yohanes.  St. Ignatius adalah salah satu dari para Bapa Apostolik (kelompok otoritatif terawal dari para Bapa Gereja). Dia mendasarkan otoritasnya pada statusnya sebagai seorang uskup Gereja, menjalani hidupnya dengan meneladaniKristus.
2.5.2 Kemartiran
Menurut tradisi, dikatakan bahwa pada masa pemerintahan Kaisar Trajanus, pada tahun yang ke-9, kaisar mengunjungi Antiokhia. Di Antiokhia kaisar mengancam orang-orang yang tidak mau mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa dengan hukuman mati. Dengan demikian Trajanus mengunjungi Antiokhia pada tahun 107. Ignatius mempertahankan imannya dan menolak untuk mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa. Ia menolak untuk menyangkal Kristus.
Dengan tangan yang terantai serta dikawal oleh sepuluh orang tentara ia digiring ke Roma. Perjalanannya melewati Seleucia, Smirna. Di Smirna Ignatius disambut dengan penuh hormat oleh Uskup Polykarpus dan sejumlah jemaat tetangganya mengunjungi Ignatius untuk meminta nasihat dan berkatnya. Dari Smirna ia berjalan ke Troas, Neapolis, Makedonia, Epirus dan kemudian menyeberang ke Roma. Dia menjalani hukuman mati di Colosseum, diumpankan kepada singa.
Dalam Kronik, Eusebius menulis bahwa Ignatiaus wafat pada tahun 2124 sesudahAdam, setara dengan tahun ke-11 pemerintahan Kaisar Traianus, yakni tahun 108 Masehi. Jenazahnya kini terbaring dalam makam di bawah Basilika Santo Petrus di Roma. Hari peringatan Ignatius adalah 20 Desember dalam Kristianitas Bizantium, dan 17 Oktober dalam Kristianitas Barat dan Suriah, atau 1 Februari bagi mereka yang mengikuti Kalender Romawi Umum 1962.
2.5.3 Surat-surat
Dalam surat-surat yang dikaitkan dengan Santo Ignatius memberikan keterangan penangkapan dan perjalanannya ke Roma. Sepanjang perjalanan dari Smirna ke Troas, Neapolis, Makedonia, Epirus dan kemudian menyeberang ke Roma, dia menulis enam pucuk surat kepada Gereja-Gereja di kawasan itu dan sepucuk surat kepada seorang rekan uskup.
Tujuh surat Ignatius yang terkenal:
·                Surat kepada jemaat di Efesus
·                Surat kepada jemaat di Tralles
·                Surat kepada jemaat di Magnesia
·                Surat kepada jemaat di Roma
·                Surat kepada jemaat di Filadelfia
·                Surat kepada jemaat di Smyrna
·                Surat kepada Polikarpus, Uskup Smyrna
Surat-Surat Pseudo-Ignatius
Epistolae (surat-surat) di bawah ini dikaitkan dengan Ignatius, namun identitas penulisnya diragukan:
·                Surat kepada jemaat di Tarsus
·                Surat kepada jemaat di Antiokhia
·                Surat kepada Hero, seorang diakon jemaat Antiokhia
·                Surat kepada jemaat di Filipi
·                Surat dari Maria si proselit (orang yang takut akan Tuhan) kepada Ignatius
·                Surat kepada Maria di Neapolis, Zarbus
·                Surat pertama kepada St. Yohanes
·                Surat kedua kepada St. Yohanes
·                Surat Ignatius kepada Perawan Maria
·                Surat balasan dari Perawan Maria kepada Ignatius
Dalam surat-suratnya terlihatlah bagaimana ajaran-ajaran Ignatius. Ia melihat bahwa mati sebagai syahid adalah kebajikan Kristen yang tertinggi. Demikianlah juga kehidupan selibat. Ia menyebut orang yang selibat sebagai mempelai dan permata Kristus. Dalam suratnya kepada Polikarpus ia mengatakan bahwa jikalau seseorang dapat tetap tinggal dalam kemurniaan daging untuk kemuliaan tubuh Kristus, biarlah ia tinggal sedemikian dan tanpa kesombongan.
Ekaristi dikatakannya sebagai obat ketidak-fanaan dan obat penawar maut. Sakramen merupakan saluran untuk menerima anugerah ilahi. Ignatius sangat menekankan persatuan antara orang percaya dengan Kristus sehingga suasana mistis mewarnai ajarannya.
Ajarannya pada umumnya berbau ortodoks. Ia melawan ajaran-ajaran sesat, seperti Dosetisme. Menurut dia, Yesus yang disalibkan adalah Allah yang menjadi manusia. Kristus sungguh lahir dari anak dara Maria dan mati di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Kematian Kristus adalah sumber kehidupan orang percaya.
Ignatius juga dipandang sebagai seorang pembela keesaan gereja. Uskup baginya adalah penjaga dan pembela keesaan gereja. Keesaan gereja itu didasarkannya kepada keesaan antara Allah dengan Yesus Kristus dan di dalam Ekaristi. Bahkan Ignatius menyamakan uskup dengan gereja dan gereja dengan uskup. Ia mengatakan antara lain sebagai berikut:
"Jauhilah perpecahan sebagai sumber kerusuhan. Hendaklah kalian
semuanya mengikuti uskup, sebagaimana Yesus Kristus mengikuti
Bapa; ikutilah pula kaum presbiter sebagaimana kalian ikuti para
rasul; hormatilah kaum diaken sebagaimana kalian akan mematuhi
Allah. Tak seorang pun hendaknya berbuat sesuatu yang berhubungan
dengan gereja tanpa izin uskup. Hendaknya kalian anggap sah
Ekaristi yang dilayankan oleh uskup atau oleh seseorang yang
dikuasakannya. Di tempat hadirnya uskup hendaklah jemaat
berkumpul, sebagaimana di tempat hadirnya Yesus Kristus, di situ
pula hadir Gereja Am. Tanpa pengawasan uskup, pembaptisan atau
perjamuan kasih tidak diizinkan. Sebaliknya, apa pun yang
disetujuinya adalah menyenangkan pula bagi Allah. Dengan demikian,
apapun yang kalian lakukan bakal selamat dan sah .... Baguslah
kita akui Allah dan uskup. Siapa yang menghormati uskup, dihormati
oleh Allah. Tetapi siapa pun bertindak tak setahu uskup, mengabdi
kepada iblis" (Surat kepada jemaat Smirna).
2.6 Yustinus Martir
2.6.1 Riwayat Hidup
Flavius Yustinus (juga disebut Yustinus dari Kaisarea atau Yustinus sang filsuf; bahasa Inggris: Justin Martyr, 103-165) adalah salah seorang penulis Kristen paling terkenal lewat karyanya Liber Apologeticus - "Apologi Pertama". Ia dilahirkan di Samaria pada tahun 95. Pada akhir hayatnya ia mati syahid menjadi martir sehingga namanya disebut sebagai Yustinus Martir. Yustinus Martir juga adalah seorang filsuf yang aktif mempelajari ajaran-ajaran Stoa, Aristoteles, dan Phytagoras, tetapi kemudian ia menganut sistem Plato.
Yustinus menjadi seorang Kristen ketika ia merenungkan tulisan-tulisan Taurat dan membaca Injil serta surat-surat Paulus. Kemudian Yustinus bertemu dengan seorang tua yang bertapa di padang sunyi di Palestina. Orang tua ini mengajarkan kepadanya tentang Kitab Suci, tentang para nabi dalam Perjanjian Lama.[1] Yustinus menemukan bahwa sekarang ia menemukan kebenaran sejati dalam agama Kristen.[1] Oleh karena itu ia bertobat menjadi Kristen pada tahun 130.[1] Sesudah pertobatannya, Yustinus mengajar di Efesus. Ia memandang pengajaran Kristen sebagai filsafat, yang nilainya lebih tinggi dari filsafat Yunani.
2.6.2 Hidup dan Karya Yustinus Martir
Yustinus hidup pada masa gereja dan orang Kristen berada pada keadaan yang tidak menguntungkan. Ia sering melihat bahwa banyak orang Kristen yang dihambat dan dianiaya. Oleh karena rasa keprihatinannya, ia membela kekristenan dari serangan yang dilancarkan oleh pemerintah yang tidak beragama Kristen.
Karya tulis Yustinus, "Apologi Pertama", ditujukan pada Kaisar Antoninus Pius (dalam bahasa Yunani berjudul Apologia, yaitu suatu kata yang mengacu pada logika yang menjadi dasar kepercayaan seseorang). Dalam tulisannya ini, Yustinus menyatakan bahwa orang Kristen menuntut keadilan. Jika orang Kristen bersalah, ia harus diadili. Ia menolak bila orang Kristen dihukum karena mereka seorang Kristen. Ia juga menjelaskan mengenai ibadah Kristen dan Perjamuan Kudus, sehingga kecurigaan kekaisaran Roma terhadap orang Kristen sebagai kelompok subversif, amoral, dan kriminal pun terhapus. Seperti Paulus, Yustinus tidak meninggalkan orang-orang Yahudi ketika ia berpaling kepada orang-orang Yunani. Dalam karya besar Yustinus lainnya, "Dialog dengan Tryfo", ia menulis kepada seorang Yahudi kenalannya, bahwa Kristus adalah penggenapan tradisi Ibrani.
Tidak hanya itu saja, Yustinus juga memberikan informasi mengenai tata ibadah, Baptisan, dan Perjamuan Kudus dalam gereja pada abad ke 2. Mengenai tata ibadah dikatakan bahwa ibadah dilakukan pada hari Minggu. Hal ini dikarenakan Allah beristirahat pada hari ketujuh.Selain itu, jemaat beribadah pada hari minggu juga karena Kristus bangkit pada hari tersebut. Mengenai praktek baptisan, Yustinus menyatakan bahwa mereka yang dibaptis adalah mereka yang telah percaya kepada pengajaran Kristen dan yang telah berjanji hidup mengikuti ajaran-ajaran tersebut.
Karya-karya penting Yustinus tidak hanya terbatas dalam hal menulis saja, Yustinus juga mengadakan perjalanan yang cukup jauh.[1] Dalam perjalanannya ia selalu berargumentasi tentang iman yang diyakininya. Di Efesus, ia bertemu dengan Tryfo. Di Roma, ia bertemu Marcion, pemimpin kelompok Gnostik. Pada suatu perjalanannya ke Roma, ia pernah bersikap tidak ramah terhadap seseorang yang bernama Crescens, seorang Cynic.
2.6.3 Kemartiran
Yustinus menentang orang-orang Romawi dan ditangkap karena pengajarannya. Pada tahun 163 dia dan beberapa orang Kristen lainnya dihadapkan ke Rustikus, kepala daerah Roma. Pada saat Yustinus dan sahabat-sahabatnya dengan berani mengakui iman mereka dan menolak untuk memberikan korban kepada dewa-dewa berhala, mereka dipenggal.
Setelah kematiannya, filsuf yang terkemuka itu menjadi terkenal sebagai Yustinus Martir. Teladannya yang sangat baik menjadi inspirasi bagi orang-orang Kristen di kemudian hari yang bersedia mati sebagai martir oleh karena mereka memilih untuk mengikut Yesus-orang Nazaret yang dianggap hina.
2.7 Polikarpus
2.7.1 Riwayat Hidup
Polikarpus dilahirkan antara tahun 75 hingga 80. Ia menjadi seorang Kristen ketika pengikut Kristus masih sedikit jumlahnya. Sesungguhnya, Polikarpus adalah murid dari salah seorang rasul, yaitu St. Yohanes. Apa yang telah dipelajarinya dari St. Yohanes diajarkannya kepada yang lain. Polikarpus menjadi seorang imam dan kemudian Uskup Smyrna yang sekarang adalah Turki. Ia menjadi Uskup Smyrna untuk masa yang cukup lama. Jemaat Kristiani mengenalnya sebagai seorang gembala umat yang kudus serta pemberani.
Polikarpus adalah sahabat dari Papias (Irenaeus V.xxxii) yang termasuk "Pendengar Yohanes" yang lain, seperti interpretasi Ireneus dari kesaksian Papias dan sebuah surat Ignatius dari Antiokhia. Ignatius mengirimkan surat kepadanya dan menyebutkan namanya pada surat kepada jemaat Efesus dan Magnesia. Murid Polikarpus yang paling dikenal adalah Ireneus, yang menulis sejumlah kenangan mengenai Polikarpus dan menjadi mata rantai yang menghubungkannya dengan rasul-rasul terdahulu.
Ireneus menceritakan bagimana dan kapan ia menjadi seorang Kristen. Ia menyatakan pada bagian awal suratnya kepada Florinus bahwa ia bertemu dan mendengarkan Polikarpus secara pribadi di Asia Kecil. Pada keterangan-keterangan selanjutnya, ia mencatat hubungan Polikarpus dengan Yohanes Sang Penginjil dan dengan orang-orang lain yang telah bertemu Yesus. Ireneus juga melaporkan bahwa Polikarpus dikristenkan oleh para rasul sendiri, ditahbiskan menjadi seorang uskup, dan berkomunikasi dengan banyak orang yang telah bertemu dengan Yesus.
Menjelang mati syahidnya Polikarpus, ia memberitahukan sendiri usia ketika ia mati dengan mengucapkan kalimat, "Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia", yang kemudian dimengerti bahwa ia telah berusia 86 tahun pada saat itu dan telah dibaptiskan ketika masih bayi.
2.7.2 Hidup dan Karya Polikarpus
Polikarpus memegang peranan penting dalam sejarah Gereja Kristen. Dia termasuk di antara orang-orang Kristen perdana yang tulisan-tulisannya masih tersisa. Dia adalah uskup dari sebuah Gereja penting di tempat di mana para rasul bekerja. Dan dia hidup pada masa di mana ortodoksi (nilai-nilai tradisi, ajaran, dan kebiasaan turun-temurun) diterima secara luas oleh Gereja-Gereja Ortodoks, Gereja-Gereja Timur, kelompok-kelompok yang masih menjalankan Sabat pada hari ketujuh, dan kelompok-kelompok yang mirip dengan Protestan dan Katolik.
Polikarpus bukanlah seorang filsuf atau teolog. Dari catatan-catatan yang tersisa, ia muncul sebagai pemimpin ibadah dan guru yang berbakat. “Seorang dengan kelas yang lebih tinggi, dan saksi kebenaran yang tabah daripada Valentinus, dan Marsion, dan bidat-bidat yang lain”, kata Ireneus yang mengingatnya sejak masa mudanya. (Adversus Haereses III.3.4).
Ia hidup pada masa setelah wafat para rasul, ketika bermacam-macam interpretasi ajaran Yesus diajarkan. Peranannya adalah dengan menegaskan ajaran asli yang didapatkannya dari Rasul Yohanes. Catatan yang tersisa menunjukkan keberanian di wajah Polikarpus tua saat menghadapi kematian dengan dibakar pada tiang pancang menunjukkan betapa bisa dipercayanya perkataan-perkataan Polikarpus.
Seluruh karyanya yang tersisa adalah suratnya kepada jemaat Filipi, yang merupakan kepingan keterangan kepada Perjanjian Baru. Surat itu dan sebuah catatan Polikarpus. Mengenai mati syahidnya (Martyrdom of Polycarp) ditemukan sebagai surat berantai dari Gereja Smirna kepada Gereja-gereja Pontus. Surat-surat tersebut membentuk kumpulan tulisan-tulisan dari “Bapa Gereja Apostolik” (suatu istilah untuk menegaskan kedekatan mereka dengan para Rasul dalam tradisi Gereja). Mati syahid diyakini sebagai daftar catatan asli para syahid Kristen yang ditulis paling awal, dan juga merupakan salah satu dari sedikit catatan asli dari tahun-tahun penganiayaan Kristen.
Polikarpus adalah seorang penyebar dan pemurni wahyu Kristen yang hebat pada masa Injil dan surat-surat mulai diterima secara luas. Meskipun kunjungannya ke Roma untuk bertemu uskup Roma digunakan pihak Gereja Katolik Roma untuk memperkuat klaim keutamaan Roma (sistem kepausan), namun sumber-sumber Katolik menyatakan bahwa Polikarpus tidak menerima kuasa dari uskup Roma untuk mengganti hari Paskah (bahkan, Polikarpus dan Anicetus uskup Roma setuju untuk tidak setuju. Keduanya percaya bahwa praktik Paskah mereka sesuai dengan tradisi Rasuli) –- Penerus spiritual Polikarpus seperti Melito dari Sardis dan Polikrates dari Efesus sependapat dengan hal yang sama.
2.7.3 Akhir hidup Polikarpus
Pada masa itu, umat Kristen mengalami penganiayaan serta pembantaian dalam masa pemerintahan Kaisar Markus Aurelius. Seseorang mengkhianati Polikarpus dan melaporkannya kepada penguasa. Ketika orang-orang yang hendak menangkapnya datang, Polikarpus terlebih dulu mengundang mereka bersantap bersamanya. Kemudian ia meminta mereka untuk mengijinkannya berdoa sejenak. Hakim berusaha memaksa Uskup Polikarpus menyelamatkan diri dari maut dengan mengutuk Yesus. Polikarpus pun berdiri dengan tegar. Ia mengatakan kalimat terakhirnya yang terkenal, "Selama 86 tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja [Kristus] yang telah menyelamatkanku?"
Para prajurit mengikat kedua belah tangan St. Polikarpus dibelakang punggungnya. Kemudian uskup tua itu ditempatkan diatas api unggun yang disulut hingga berkobar-kobar. Tetapi, api tidak menyakitinya sedikit pun. Salah seorang prajurit kemudian menikamkan sebilah pedang ke lambung uskup. Demikianlah, pada tahun 155, Polikarpus wafat sebagai martir. Ia pergi untuk tinggal selama-lamanya bersama Yesus Kristus yang telah dilayaninya dengan gagah berani.
2.8 Ireneus
2.8.1 Riwayat Hidup
Ireneus lahir di Asia Kecil, antara tahun 140-160. Pendidikannya berlangsung di Smyrna. Tidak seperti kebanyakan  para bapa gereja, ia dibesarkan dalam keluarga Kristen. Sejak kecil ia sudah belajar tentang kekristenan. Pelajaran agama diperolehnya dari Santo Polykarpus, murid dari Santo Yohanes Rasul. Ireneus bekerja di Lyon sebagai seorang imam. Pada tahun 177, timbullah aksi penghambatan agama di Lyon. Uskup kota Lyon, Potinus, meninggal karena suatu penganiayaan yang kejam atas dirinya. Lantas, Ireneus diangkat sebagai penggantinya.
Sebagai uskup, ia menggembalakan umatnya dengan penuh perhatian dan cinta. Ia juga memperjuangkan kesatuan Gereja. Dalam perselisihan antara Gereja Latin dan Yunani tentang hari raya Paskah, ia menjadi juru bicara Paus. Ia menghimbau agar kedua kutub Gereja tersebut berdamai agar tidak menimbulkan kerisauan iman di tengah-tengah umat.
Dalam kepemimpinannya, Ireneus berusaha untuk menghargai budaya setempat. Setiap kali berkotbah di hadapan umatnya, ia selalu menggunakan  bahasa yang dipakai oleh umat setempat, meskipun ia sendiri dibesarkan dalam bahasa Yunani. Ia juga selalu berusaha untuk membela ajaran iman yang benar. Hal ini dibuktikannnya dengan melawan ajaran sesat gnostisisme. Ia meninggal pada tahun 202 sebagai seorang martir Kristus.
Namanya Ireneus, yang berarti pencinta damai, diusahakan menjadi kenyataan di dalam seluruh hidupnya. Dalam perselisihan antara Gereja Latin dan Yunani tentang tanggal hari raya Paska, ia menjadi juru bicara Sri Paus. Ia meninggal pada tahun 202 selaku seorang martir Kristus. Ia diakui sebagai Santo baik oleh Gereja Ortodoks Timur maupun Gereja Katolik Roma. Gereja Katolik Roma bahkan menganggap Ireneus sebagai salah satu Bapa Gereja. Tanggal peringatan Ireneus adalah 28 Juni.
2.8.2 Hidup dan Karya Ireneus
Konteks hidup Ireneus diwarnai oleh beragam penganiayaan terhadap orang Kristen dan ajaran sesat. Ajaran sesat yang berkembang pesat pada waktu itu adalah gnostisisme. Gnostisisme merupakan gerakan keagamaan yang bersifat sinkretis. Aliran ini berusaha mengawinkan pola pemikiran filsafat Barat dengan agama-agama Timur. Unsur dasariah gnostisisme adalah dualisme. Mereka mengajarkan bahwa keselamatan dapat dica pai oleh manusia jika unsur rohani dibebaskan dari unsur materi yang jahat.
Meski percikan iman Kristen turut mewarnai aliran ini, tapi ajaran gnostis sangat bertentangan dengan ajaran iman Kristiani. Sebab, gnostis menyangkal inkarnasi (sebab materi itu jahat), kematian Yesus (sebab keselamatan diperoleh melalui keutamaan gnostis bukan melalui korban Kristus di Salib), kebangkitan (tak dapat ditolerir gagasan tentang jiwa yang bertubuh, sebab tubuh adalah penjara yang menyengsarakan jiwa), serta panggilan universal (gnostis itu terbatas hanya pada orang-orang yang memiliki pengetahuan yang mendalam dan luas).
Ketika ajaran gnostis mulai meresahkan iman umat, maka Ireneus berusaha dengan gigih untuk membendung ajaran-ajaran sesat tersebut dengan memaparkan ajaran iman yang benar. Ia menyusun karya teologis yang berjudul Adversus Haereses. Tesis mengenai “perendahan semua yang ada di dalam Kristus” merupakan kunci teologinya. Selain itu, menurutnya, Gereja telah memperoleh dari para rasul iman yang benar. Pokok-pokok iman tersebut tercatat dalam Credo (syahadat rasuli).
Berdasarkan penyebutan Eleutherius sebagai uskup Roma saat itu, karya ini diyakini ditulis sekitar tahun 180 Masehi. Di dalam karyanya ini, Ireneus mengidentifikasi dan menjabarkan beberapa ajaran gnostisisme dan membandingan kepercayaan mereka dengan ajaran Kristen umum dan ortodoks. Hanya sejumlah fragmen dari naskah asli bahasa Yunani yang ada saat ini. Namun, ditemukan terjemahan lengkap dalam bahasa Latin, yang nampaknya dibuat segera setelah penerbitan bahasa Yunani, serta terjemahan Jilid IV dan V dalam bahasa Armenia literal.
Marcion termasuk salah seorang tokoh Gnostis. Marcion bersikukuh bahwa Gereja melakukan kesalahan karena tetap memakai Perjanjian Lama dan menganggap Yesus sebagai Mesias yang diramalkan para nabi. Dengan mengacu pada Injil Lukas (5:36-38 dan 6:43), ia menyatakan bahwa pesan-pesan yang disampaikan Yesus benar-benar baru dan berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh Perjanjian Lama[4]. Dengan kata lain, Allah Perjanjian Lama berbeda dengan Allah Perjanjian Baru.
Ia menolak pandangan Perjanjian Lama tentang revelasi Allah Kristiani. Dalam ajaran kristiani, revelasi Allah melalui para nabi mengalami kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus. Marcion tidak menganggap Yesus sebagai kepenuhan revelasi. Hanya Yesuslah satu-satunya revelasi. Marcion menemukan dasar penolakannya dalam pemikiran-pemikiran Paulus.
Hal ini membuat Marcion merasa perlu untuk mengembalikan ajaran Kristiani yang otentik. Karena itu ia menyusun sebuah kanon Kitab Suci yang memuat sebagian Injil Lukas (Bab I dan II dihilangkan) dan sepuluh Surat Paulus (selain Ibrani dan Surat-Surat Pastoral) serta menolak Perjanjian Lama.
Ireneus mengembangkan teori tentang pernyataan diri Allah yang menyejarah.  Yesus Kristus sebenarnya sudah tergambar lewat nubuat para nabi di Perjanjian Lama. Akan tetapi gambaran tersebut masih agak kabur, karena waktunya belum genap. Menurut Irenius apa yang tersembunyi dalam Kitab Suci menjadi tampak jelas setelah kebangkitan Yesus Kristus.
Yesus adalah Adam baru, yang membarui seluruh ciptaan dan memimpin mereka kembali pada Allah melalui peristiwa inkarnasi dan penebusanNya di salib. Perjanjian Baru adalah kepenuhan dari Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama adalah akar dari Perjanjian Baru. Keduanya memiliki kontinuitas dalam peristiwa revelasi, dan tidak boleh dipisahkan.
2.9 Tertulianus
2.9.1  Riwayat Hidup
Quintus Septimius Florens Tertullianus, atau Tertulianus, (155230) adalah seorang pemimpin gereja dan penghasil banyak tulisan selama masa awal Kekristenan.[1][2] Ia lahir, hidup, dan meninggal di Kartago, sekarang Tunisia. Ia dibesarkan dalam keluarga berkebudayaan kafir (pagan) serta terlatih dalam kesusasteraan klasik, penulisan orasi, dan hukum. Namun pada perkembangannya ia menjadi pembela kristen yang fanatik. Pada awalnya, ia juga bukan seorag filsuf, ia menolak filsafat dengan begitu keras, ia menganggap bahwa kebenaran berasal dari agama (kristen), dan agama tidak ada hubungannya dengan filsafat. Namun, pada akhirnya ia pun menerima filsafat sebagai pencari kebenaran dengan jalan rasio (akal).
2.9.2 Hasil Pemikiran Tertulianus
a)      Tritunggal
Pada tahun 196 ketika Tertulianus mengalihkan kemampuan intelektualnya pada pokok-pokok Kristen, ia mengubah pola pikir dan kesusasteraan gereja di wilayah Barat hingga digelari "Bapak Teologi Latin" atau "Bapak Gereja Latin". Ia memperkenalkan istilah "Trinitas" (dari kata yang sama dalam bahasa Latin). Tertulianus tidak mengambil terminologi dari para filsuf, tetapi dari Pengadilan Roma. Kata Latin substantia bukan berarti "bahan" tetapi "hak milik". Arti kata persona bukanlah "pribadi", seperti yang lazim kita gunakan, tetapi merupakan "suatu pihak dalam suatu perkara" (di pengadilan). Dengan demikian, jelaslah bahwa tiga personae dapat berbagi satu substantia. Tiga pribadi (Bapa, Putra dan Roh Kudus) dapat berbagi satu hakikat (kedaulatan ilahi).
Dalam sebuah wacana mengatakan bahwa Tuhan yang pertama (Bapa) diibaratkan sebagai seorang raja, kemudian mengirimkan diri(ruh)Nya ke dalam rahim Maryam. Kemudia tumbuh dan lahir, itulah Tuhan Anak (disebut Yesus Kristus), Ia pun menjadi wakil si Bapa di bumi (seperti konsep ke-khalifahan manusia). Sedangkan posisi Roh Kudus mirip seperti “distributor” perintah. Dari sini, ia menyimpulkan bahwa tidaklah mungkin ada pertentangan pikiran (rasio: perkataan) antara satu sama lain, karena ketiganya memang satu.
b)     Ruh
Meskipun Tertulianus mempersoalkan "Apa urusan Athena (filsafat) dengan Yerusalem (gereja)?", namun, filsafat Stoa yang populer pada masa itu turut mempengaruhinya (pada pembahasan konsep dosa). Ada yang berkata bahwa ide dosa asal bermula dari Stoisisme, kemudian diambil alih Tertulianus dan selanjutnya merambat ke Gereja Barat. Ia berpendapat bahwa roh (jiwa) itu adalah sebentuk benda: seperti tubuh dibentuk ketika pembuahan, maka roh pun demikian. Dosa Adam diwariskan seperti rangkaian genetik.
c)      Derajat dan kuasa manusia (termasuk uskup)
Meskipun Tertulianus pernah menekankan ide suksesi para rasul – pengalihan kuasa dan wibawa para rasul kepada para uskup – (mugkin salah satu bentuk upaya kristenisasi), namun ia tidak dapat menerima bahwa para uskup memiliki kuasa mengampuni dosa. Ia berpendapat bahwa ini akan menjurus pada terpuruknya moral. Sementara itu para uskup terlampau yakin akan kuasa tersebut. Bukankah semua orang percaya adalah imam? Apakah ini Gereja para orang kudus yang dikelola mereka sendiri, ataukah sekumpulan orang kudus dan orang-orang berdosa yang dikelola "kelas" profesional yang dikenal sebagai rohaniwan? Hal itu digunakan olehnya sebagai penolakan adanya “kuasa” manusia untuk mengatur yang lain secara mutlak, terlebih dalam ke-ilahi-an.
2.10 Origenes
2.10.1 Riwayat Hidup
Origenes lahir di Alexandria sekitar tahun 185. Ia berasal dari keluarga Kristen yang saleh. Kira-kira pada tahun 201, ayah dari salah satu tokoh gereja yang terkenal ini, Leonidas, dipenjarakan dalam satu gelombang penyiksaan oleh Septimus Severus. Origenes pun menulis surat kepada ayahnya di penjara agar tidak memungkiri Kristus demi keluarganya. Meskipun Origenes ingin menyerahkan diri kepada penguasa agar dapat menjadi martir bersama-sama dengan ayahnya, namun ibunya mencegahnya dengan menyembunyikan pakaiannya.
Setelah Leonidas mati sebagai martir, hartanya disita, dan jandanya terlantar dengan tujuh orang anak. Origenes pun mulai menanggulangi keadaan dengan bekerja sebagai guru sastra Yunani dan penyalin naskah. Karena banyak di antara cendekiawan senior telah meninggalkan Alexandria dalam gelombang penyiksaan, maka sekolah katekisasi Kristen sangat membutuhkan tenaga pengajar. Pada usianya yang kedelapan belas, Origenes pun memangku jabatan kepala sekolah di sekolah katekisasi tersebut dan memulai karier mengajarnya yang panjang, termasuk belajar dan menulis.
la menjalani kehidupan asketis, menghabiskan waktunya pada malam hari dengan belajar dan berdoa, serta tidur di lantai tanpa alas. Mengikuti petunjuk Yesus, ia memiliki hanya satu jubah dan tidak mempunyai alas kaki. Ia bahkan mengikuti Matius 19:12 secara harafiah; mengebiri dirinya untuk mencegah godaan jasmani. Origenes berhasrat setia pada gereja dan membawa kehormatan bagi nama Kristus.
Dalam gelombang penyiksaan pada masa Kaisar Decius, Origenes dipenjarakan, disiksa dan diputuskan untuk dihukum mati pada tiang. Tetapi hukurnan itu tidak terlaksana karena kaisar telah meninggal dunia. Karena penderitaan (batin) inilah Origenes jatuh sakit, kemudian meninggal sekitar tahun 251 di Kaisarea. la telah berbuat banyak, lebih daripada yang orang lain pernah lakukan untuk meningkatkan pemikiran Kristen dan membuat Gereja dihormati di mata dunia. Di kemudian hari, Bapa Gereja di Barat maupun di Timur merasakan pengaruhnya. Keanekaragaman pikiran dan tulisannya telah membawa reputasi baginya sebagai bapa ortodoksi.
2.10.2 Karya dan Hidup Origenes
Sebagai seorang penulis yang sangat produktif Origenes dapat membuat tujuh sekretarisnya sibuk dengan diktenya. Ia telah menghasilkan lebih dari dua ribu karya, termasuk tafsiran-tafsiran atas setiap kitab dalam Alkitab serta ratusan khotbah.
Karyanya "Hexapla" merupakan prestasi dalam bidang kritik teks. Di dalamnya, ia mencoba menemukan terjemahan Yunani yang terbaik bagi Perjanjian Lama, dan dalam enam kolom sejajar ia membentangkan Perjanjian Lama Ibrani, sebuah transliterasi Yunani, tiga terjemahan Yunani dan Septuaginta. "Melawan Celsus" adalah karya besar yang merupakan pertahanan bagi kekristenan terhadap serangan kafir. "Atas Prinsip Pertama" merupakan upaya pertamanya dalam teologi sistematis; di sini Origenes dengan saksama meneliti keyakinan Kristen tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, penciptaan, jiwa, kehendak bebas, keselamatan dan Kitab Suci.
Origenes bertanggung jawab atas peletakan dasar-dasar penafsiran alegoris terhadap Kitab Suci yang berpengaruh hingga Abad Pertengahan. Pada setiap teks, ia percaya ada tiga tingkat pengertian: pengertian harafiah, pengertian moral - yaitu untuk memperbaiki jiwa, dan pengertian alegoris atau pengertian rohani - yakni pengertian tersirat yang penting untuk iman Kristen.
Origenes berupaya menghubungkan kekristenan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat pada masanya. Ia percaya bahwa filsafat Yunani merupakan persiapan untuk memahami Kitab Suci. Dalam mempelajari filsafat Yunani, Origenes telah mengambil banyak gagasan Plato yang sangat asing dengan kekristenan Ortodoks.
Dari kesalahan-kesalahannya, yang paling mencolok adalah paham Yunani bahwa benda dan dunia ini jahat. Ia percaya akan eksistensi roh sebelum lahir dan mengajarkan bahwa keberadaan manusia di atas bumi ini ditentukan oleh perilakunya ketika dalam keadaan praeksistensi (sebelum lahir). Ia menolak paham kebangkitan daging dan mempertimbangkan gagasannya bahwa akhirnya Allah akan menyediakan keselamatan bagi semua manusia dan malaikat. Karena Allah tidak mungkin menciptakan bumi ini tanpa berhubungan langsung dengan zat awal, maka Sang Bapa memperanakkan Putra-Nya untuk menciptakan bumi yang abadi ini. Ketika Sang Putra mati di kayu salib, maka itu hanya kemanusiaan Yesus yang mati sebagai tebusan bagi iblis atas kejahatan dunia.
Karena kesalahan-kesalahan semacam ini, maka Uskup Demetrius dari Aleksandria mengadakan sidang yang mengekskomunikasi Origenes dari gereja. Meskipun Gereja Roma dan Barat menerima ekskomunikasi ini, namun Gereja di Palestina dan sebagian besar Gereja Timur tidak menerimanya. Mereka masih mencari Origenes karena pengetahuan, kebijaksanaan dan kecendekiawanannya.

2.11 Siprianus
2.11.1 Riwayat Hidup
Thascius Caecilius Cyprianus atau yang sering dikenal dengan nama Siprianus, Sang uskup martir, adalah seorang uskup yang lahir pada pertengahan abad ketiga, lahir dari keluarga kafir golongan atas sekitar tahun 200. Awalnya, Cyprianus mengajar retorika di Kartago dan mungkin dipersiapkan untuk duduk dalam pemerintahan tinggi, seperti gubernur provinsi. Akan tetapi, tahun 256/246 Cyprianus berpaling dari prospek kehidupan yang gemilang demi menjadi seorang Kristen. Setelah memutuskan hidup menjadi seorang Kristen, ia meninggalkan pola hidupnya yang lama, membagi-bagikan uang dan harta kepada orang miskin, serta bersumpah akan hidup suci. Tentang perubahan ini ia menulis: "Kelahiran kedua ini telah menciptakan manusia baru dalam diri saya, dengan hembusan Roh dari surga."
Setelah menjadi orang Kristen, pada tahun 248/249 menjadi seorang presbiter atau penatua dan dengan relatif singkat menjadi uskup di Kartago,kedudukan terpenting di provisi Romawi Afrika.Ia menduduki jabatannya sebagai seorang uskup kurang lebih sepuluh tahun, hingga mati sebagai seorang martir pada tahun 258.Pemikiran Cyprianus sangat dipengaruhi oleh Tertullianus, pengacara kelahiran afrika yang menulis buku-buku kristen.
2.11.2 Karya dan Hidup Siprianus
Meskipun ia terlatih dalam sastra Yunani dan Romawi klasik, Siprianus bukanlah seorang teolog. Yang diinginkannya hanyalah persatuan di gereja. Di gereja yang tidak ada kesatuan, ia mencoba menyatukan orang-orang Kristen melalui kuasa para uskup.
Pada tahun 251 Siprianus mengadakan konsili di Kartago dan di situlah ia membacakan karyanya, "Persatuan di dalam gereja", karyanya yang terkenal dan yang sangat berpengaruh dalam sejarah gereja. Gereja, katanya, adalah lembaga ilahi, yaitu mempelai Kristus, dan hanya ada satu mempelai. Hanya di dalam gereja manusia akan mendapatkan keselamatan, di luar itu yang ada hanyalah kegelapan dan kebingungan. Di luar gereja, sakramen dan para rohaniwan — bahkan Alkitab — tidak ada artinya. Seseorang, secara pribadi, tidak dapat menjalankan kehidupan Kristen melalui kontak langsung dengan Allah; ia membutuhkan gereja.
Dengan diterimanya ide ini, tentu saja, para uskup mendapat kuasa lebih besar. Siprianus juga mencetuskan ide bahwa misa adalah pengorbanan tubuh dan darah Kristus. Karena para imam menjalankan fungsinya dalam ibadah atas nama Kristus, maka hal ini pun meningkatkan kuasa mereka.
Siprianus meninggal karena penyiksaan Kaisar Valerianus. Karena ia menolak melakukan persembahan korban bagi dewa-dewa kafir, maka kepala Uskup Kartago itu dipenggal pada tahun 258.



2.12 Antonius
St. Antonius dilahirkan pada tahun 251 di sebuah dusun kecil di Mesir. Ketika usianya duapuluh tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia. Mereka mewariskan kepadanya harta warisan yang besar dan menghendaki agar ia bertanggung jawab atas hidup adik perempuannya. Antonius merasakan belas kasihan Tuhan yang berlimpah atasnya dan datang kepada Tuhan dalam doa. Semakin lama semakin peka ia akan penyelenggaraan Tuhan dalam hidupnya. Sekitar enam bulan kemudian, ia mendengar kutipan Sabda Yesus dari Kitab Suci: “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga.” Antonius menerima sabda tersebut sebagai sapaan pribadi Tuhan dan jawab-Nya atas doanya mohon bimbingan Tuhan. Ia menjual sebagian besar harta miliknya, menyisakan sedikit saja cukup untuk menunjang hidup adiknya dan dirinya sendiri. Kemudian ia membagi-bagikan uangnya kepada mereka yang membutuhkannya.
Saudari Antonius bergabung dengan kelompok perempuan yang hidup dalam doa dan kontemplasi. Antonius memutuskan untuk hidup sebagai seorang pertapa. Ia mohon pada seorang pertapa senior untuk memberinya pelajaran hidup rohani. Antonius juga mengunjungi para pertapa lainnya agar ia dapat belajar kebajikan-kebajikan paling utama dalam diri setiap pertapa. Kemudian ia mulai hidupnya sendiri dalam doa dan tobat sendirian hanya dengan Tuhan saja.
Antonius pergi ke wilayah gurun di sebelah barat Alexandria. Di sana, ia tinggal sekitar 13 tahun. Dalam pertapaan, iblis menggodanya dengan memberinya rasa bosan, ma­las, dan hantu perempuan. Namun, ia mengatasi semuanya dengan kekuatan doa. Kemudian, ia pergi ke Padang Gurun Der el Memun. Di tempat itu, setan menggodanya lagi dalam bentuk binatang buas: serigala, singa, ular, dan kalajengking. Kali ini, kembali Allah memberinya kemenangan atas iblis.
Saat berumur 55 tahun, ia mendirikan bia­ra pertamanya, tidak jauh dari Aphroditopolis. Biara ini terdiri dari beberapa ruangan yang tersebar, masing-masing dihuni oleh seorang biarawan soliter. Antonius tidak tinggal di biara ini, namun ia sering mengunjungi mereka. Dia mengajarkan kepada para bia­rawan untuk memiliki keabadian.
Ketika berusia 60 tahun, Antonius berharap dapat menjadi martir pada masa penganiayaan di bawah Kaisar Maximinus Daia di Alexandria. Tanpa rasa takut akan bahaya, ia memberikan dukungan moral dan material bagi mereka yang teraniaya di penjara. Setelah masa itu berakhir, ia kembali ke benteng Romawi kuno. Di sana, banyak orang mengunjunginya dan mendengar ajaran-ajarannya. Ia melihat kunjungan ini menjauhkannya dari ibadah. Akibatnya, ia pergi lebih lanjut ke Gurun Timur dari Mesir. Ia pergi ke padang gurun selama tiga hari, sampai ia menemukan mata air dan beberapa pohon pa­lem, dan kemudian ia menetap di sana. Di tempat ini, sekarang berdiri Biara Santo Antonius Agung.
Antonius wafat setelah melewatkan hidup yang panjang dalam doa. Santo Antonius Agung wafat pada ta­hun 356. Usianya mencapai 105 tahun. Antonius Agung biasanya digambarkan sebagai seorang tua yang mengenakan pakaian hitam, membawa sebuah salib dalam bentuk T, dan kadang-kadang sebuah lonceng kecil disertai dengan babi. Peringatan Antonius Agung dirayakan tiap 17 Januari.
2.13 Diokletianus
Gaius Aurelius Valerius Diocletianus (245?–312?), adalah seorang Kaisar Romawi sejak 20 November 284 - 1 Mei 305. Diocletianus berhasil menyelesaikan Krisis pada abad ketiga (235 -284). Dia membangun sebuah pemerintahan otokrasi, namun gagal karena mengalami berbagai kesulitan akibat terlalu luasnya wilayah Kekaisaran Romawi. Untuk mengatasinya, ia membagi wilayah Kekaisaran Romawi menjadi dua bagian yang masing-masing diperintah oleh seorang Augustus, namun masih dalam satu Kekaisaran Romawi yang tunggal. Kesulitan ini di antaranya :
A) Daerah yang terlalu luas mengakibatkan koordinasi pusat dengan daerah lainnya terhambat, perlu waktu berbulan-bulan agar maklumat atau hukum dari pusat pemerintahan samapai ke daerah terpencil.
B) Daerah yang terlalu luas itu juga mengakibatkan rendahnya pengawasan dan penjagaan dari serangan bangsa lain.
                        Pada abad ke 4 dimulai dengan penganiayaan yang paling besar yang diarahkan pada Gereja oleh kaisar Diokletianus. Daftar Syuhada atau Martyr yang paling panjang berasal dari abad ini. Setiap orang yang menjadi pengikut Yesus disiksa entah itu secara acak maupun para pemimpin-pemimpin. Setelah surutnya Diokletianus, terjadilah perebutan kekuasaan dalam kerajaan Romawi.











BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada abad-abad awal dalam Sejarah Gereja Perdana ini, banyak orang Kristen mengalami penganiayaan dan tidak sedikit orang percaya yang terbunuh karena Imannya. Suatu misal pada tahun 64 Masehi ketika zaman pemerintahan kaisar Nero yang pada zaman itu pula St. Petrus dan St. Paulus mati terbunuh, banyak orang Kristen yang dikejar-kejar dan dianiaya. Sifat penganiayaan itu bersifat sporadis, suatu misal di disebelah Timur Mesopotamia yaitu ketika berada dibawah kekaisaran Agung Persia, banyak orang Kristen yang dianiaya karena cemburu pendeta-pendeta Agama Zoroaster, yaitu agama resmi Persia terhadap orang percaya, sementara di Roma sendiri Agama Krtisten dianggap sebagai "agama yang tak resmi" atau "Religio Illicita", serta orang-orang percaya dianggap sebagai :
Atheisme : karena mereka tak menyembah dewa kafir Romawi-Yunani, sehingga mereka dianggap tak berdewa atau ber- Tuhan.
Kanibalisme : karena kebiasaan orang Kristen dalam setiap pertemuan Ibadah selalu makan daging dan minum darah seorang bayi.
Imoralitas dalam Kebaktian : Karena orang Kristen dalam Setiap kali pertemuan Ibadah selalu mengatakan "Cium Kudus" , yang oleh orang kafir hal ini dianggap telah melakukan perzinahan sumbang yaitu perzinahan sesama saudara. Hal seperti ini tentu saja telah menimbulkan rasa takut dan benci di kalangan orang kafir terhadap orang Kristen.
Sementara dari pihak pemerintah, karena orang Kristen menolak memberikan kemenyan di depan patung Kaisar sebagai tanda loyalitas terhadap Kaisar yang dianggap sebagai "Dominus et Deus", penolakan orang percaya memberi kemenyan pada patung kaisar, karena dalam pemandangan orang percaya hanya Kristuslah sebagai "Dominus" itu. Dan karena penolakannya itulah maka orang Percaya dianggap sebagai Pembangkang politik yang membahayakan, karena mereka mempunyai loyalitas terhadap Raja lain yaitu Kristus "Sang Dominus" itu. 
Para Bapa Gereja yang mati teraniaya dan sahid pada abad-abad ini adalah Ignatius dari Antiokia, pengganti ketiga dari Rasul Petrus di Antiokia, Syria sebagai Episkop (110 Masehi), Polikarpus Episkop dari Smirna mati teraniaya dibawah Kaisar Marcus (l66 Masehi) dan Yustinus Sang Suhada.
Dan juga perlu ditandaskan disini, bahwa abad-abad awal ini banyak sekali bermunculan tulisan mengenai Kristus, yang mana tulisan ini disebut sebagai "Apokrifa" (jangan dikacaukan dengan "Anaginoskome" dari Perjanjian Lama) serta tulisan-tulisan "Pseudopigrafa". Biasanya tulisan-tulisan itu memakai nama salah satu dari Para Rasul dan memasukkan dongeng-dongeng aneh mengenai masa kecil Kristus, kehidupan Perawan Maria dan kegiatan-kegiatan karya Para Rasul. Dan bersama dengan itu muncul pula aliran "Gnostikisme" yaitu suatu bidat yang mengubah ajaran Kristen seperti ajaran kebatinan. Dan dalam rangka melawan pengajaran ini, Gereja menyebut ajaran Rasuliah ini sebagai ajaran yang "Orthodox" yang berasal dari kata "Orthos" yang artinya benar atau lurus dan "Doxa" yang berarti penyembahan atau ajaran, jadi kata Orthodox ini bukan berarti kolot namun "penyembahan yang lurus atau pengajaran yang lurus benar", dan sebagai lawan Orthodox adalam Heterodox. Dan akibat dengan banyaknya ajaran palsu dan Gnostik inilah, maka para Apologist dan Bapa Gereja menekankan pentingnya "suksesi Rasuliah" dan bersama itu pula tulisan-tulisan mana yang dianggap oleh Gereja bisa menjadi bahagian dalam kanon Kitab Suci.
Tulisan-tulisan yang bisa dimasukkan dalam kanon itu harus :
  • Berasal dari zaman Para Rasul.
  • Ditulis Para Rasul sendiri atau teman/murid dekat mereka
  • Sesuai ajaran Rasuliah tanpa putus sebagai paradosis dalam Gereja
  • Digunakan secara merata di seluruh Gereja awal
  • Harus mengajarkan kesucian dan bukan dongeng-dongeng gnostik.
Menginjak pertengahan abad ketiga ini, penganiayaan besar-besaran terhadap orang percaya juga terjadi, suatu misal pada tahun 249 ketika Kaisar Decius naik tahta, kaisar ini mengadakan penganiayaan terhadap orang Percaya secara universal, dan penganiayaan ini dilanjutkan oleh Kaisar Valerianus (253-260). Dalam penganiayaan ini, orang percaya dipaksa mempersembahkan korban kepada patung kaisar sebagai "Tuhan dan Illah", para rohaniwan harus dikejar dan dibunuh, harta benda Gereja harus disita. Dan baru setelah anak Valerianus naik tahta dan berdiri sebagai Kaisar, maka penganiayaan terhadap orang Kristen dihentikan. Dengan berhentinya penganiayaan ini Gereja berkembang secara luar biasa, namun akibat penganiayaan itu telah mengakibatkan krisis besar di dalam Gereja. 
Mereka yang pada saat penganiayaan itu mau dengan rela mempersembahkan korban pada patung kaisar, selalu dipertanyakan. Ada yang memperbolehkan masuk Gereja kembali, dan ada yang tidak memperbolehkan serta orang-orang ini disebut sebagai kaum "Lapsi".
Sekolah Theologia Mesir di handle atau dipegang-kepalai oleh seorang penulis, sarjana dan theologia termasyur Origenes (meninggal pada tahun 253). Yang menjadi penekanan pada theologia Alexandria ini bahwa filsafat Yunani yang non-kristen itu dapat digunakan sebagai alat untuk menjelaskan Kitab Suci. Dan ciri khas pendekatan Alexandria ini adalah tafsiran secara alagoris terhadap Kitab Suci, sedangkan dalam Tradisi Syria Antiokia yang tak lama kemudia akan berkembang adalah pendekatan secara harafiah berdasarkan tata bahasa dan sejarah penulisan Kitab Suci. Kedua Pendekatan ini akhirnya akan bertemu dalam konflik pada abad-abad berikutnya. 
Karya Origenes ini sangat luar biasa dan tak terhitung jumlahnya. Dialah yang pertama kali mengadakan kajian Sistimatis dan sastrawi dari buku-buku dalam Alkitab. Dan Karya Origenes ini akan menjadi fondasi karya-karya theologia para bapa Yunani pada abad-abad berikutnya, namun demikian secara ajaran banyak pendapat Origenes yang ditolak oleh Gereja, karena tak Alkitabiah dan tak Rasuliah, sehingga pada konsili Ekumenis ke V (tahun 553), beberapa ajaran Origenes dinyatakan sesat oleh Gereja. Diantara pakar-pakar theologia abad ke 3 yang harus disebutkan bersama dengan, Kiprianus, klemen, dan Origenes adalah Dionysios dari Alexandria (wafat 265), Hippolytus dari Roma (wafat 235), Gregorius Pelaku Mujizat dari Kappadokia (wafat 270) dan Methodios dari Olympus (wafat 311). Orang-orang inilah yang memperekembangkan theologia Kristen terutama yang meletakkan dasar bagi pembahasan Tritunggal Mahakudus.
Pada abad ke 4 dimulai dengan penganiayaan yang paling besar yang diarahkan pada Gereja oleh kaisar Diokletianus. Daftar Syuhada atau Martyr yang paling panjang berasal dari abad ini.

2 komentar:

  1. wah2...artikel patrologi yang bagus...tp sayang sumber-sumber rujukannya ngak ada....kira-kira kamu punya ngak sumber yang bercerita tentang situasi atau cara hidup Gereja (baca; jemaat) perdana???

    BalasHapus
  2. Yang pasti sumber utama dari Kitab Suci, Mas. dari Kisah para rasul.

    BalasHapus