ariririta.com

Minggu, 10 Juni 2012

SINAR, BINTANG, DAN LANGIT

Cinta.. mengapa engkau selalu di bicarakan tiap hari...?
Bukan hanya melalui ocehan manis anak kecil, ciuman hangat ibu, pelukan ayah, gemeretak gigi nenek, tawa renyah kakek, bahkan juga oleh setiap tangis ku yang menghiasi sebuah senyummu. Cinta selau ada..
Lebih lagi untuk menebus sebuah senyum, aku harus membayar dengan air mataku..
Bukan air mata sedih yang mendalam.. namun air mata karena takut kamu terluka..
Senyum.. aku akan mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan yang telah kau ciptakan
Jangan larang aku! Ijinkan aku boleh memilikinya dan mengenang senyummu.. tolong ijinkan..


Satu

AKU- SINAR LINTANG GAYATRI-Gadis Desa
 

Na..na..na..na..
Aku mendendangkan sebuah lagu yang baru saja rilis. Karena tidak hafal liriknya lebih baik bagiku jika ‘nanana’ adalah pengganti liriknya daripada aku salah-salah.
Sore itu seperti biasa aku mengayuh sepedaku menyusuri jalan sepanjang... ehm entah berapa kilometer. Celana tiga perempat, sandal jepit dan sweater bertudung cukup melindungiku dari terik matahari sore. Kebetulan keranjang yang bertengger di bagian depan sepeda penuh dengan pisang yang baru aku beli sebelum pulang tadi. Pisang merupakan buah kesukaanku, aku bisa saja tidak makan nasi seharian asal aku sudah makan buah pisang. Teman-teman bilang naluri ‘kemonyetanku’ muncul saat melihat pisang. Bahkan mereka meledekku karena tanpa aku sadari aku mengupas kulitnya hanya menjadi 3 bagian. Hal ini berbahaya karena menurut mitos itu tandanya kita benar-benar mirip mereka.
                Untuk pulang ke rumah, cukup bagiku jika aku melewati 2 desa saja namun aku lebih suka memutar. Bukan 2 desa lagi namun 3 desa... hehe. Dan hari ini juga seperti itu. Olahraga gratis. Hore.. keluar keringat. Dan.. This is my beloved village-Ricipan.
“ Lho.. Lintang..?!”
                Kulihat ke belakang sesosok paruh baya menyebut namaku.
                Sugeng sonten, Nyai Ni” sapaku sambil menempatkan sepedaku pada gang kecil di samping rumahku. Nyai adalah sebutan untuk nenek. Dan Nyai Seni adalah adik dari nenekku yang berarti nenekku juga.
                “ Baru pulang?” tanya Nyai Ni.
                Nggih, Nyai Ni. Lho Nyai Ni mau kemana?” tanyaku balik. Kulihat di tangannya ada botol bekas air mineral.
                “ Ke warung beli minyak goreng sambil jalan-jalan.” Jawabnya sambil berlalu.
Kuraih lagi sepedaku yang tadi sempat bersandar,”.. nyai Ni tunggu, saya belikan”
                “ Wes tha, ndak papa..” tolaknya sambil senyum.
Kuraih saja botol yang ada di tangannya dan dengan terpaksa dia memberikan uang untuk membeli minyak goreng itu.
”.. 1 kilo saja ya, Lin!” Teriaknya ketika sepedaku sudah melaju.
Ya senang sekali rasanya aku bisa kembali bersepeda.. meski matahari enggan mengurangi sinarnya namun di atas sepeda terasa bagiku bahwa angin juga berjuang mengimbangi gerakanku.

“ Terima kasih ya, Lin..” kata Nyai Ni ketika kuserahkan botol yang hampir penuh berisi minyak goreng.
Njih, Nyai Ni..” jawabku.
“ O ya bagaimana siaranmu?” tanya Nyai Ni. Saat itu kami sedang duduk-duduk di teras rumah Nyai Ni.
“ Lancar Nyai Ni..” jawabku yakin sambil mengangguk.

Yah inilah aku.. Gadis desa yang tinggal masih dalam asuhan lingkungan yang mengandalkan hidup guyup dan unggah-ungguh bahasa maupun sikap. Sekalipun hal tersebut sudah mulai memudar -bahkan di desaku- namun entah apa yang almarhum bapak ajarkan sebelum meninggalkan aku yang saat itu berumur 7 tahun. Harusnya saat ini aku duduk di bangku kuliah, jika aku mau. Namun entah mengapa Tuhan memang lebih tahu dari aku. Seandainya aku melanjutkan pasti aku tidak akan lancar, karena.. keuangan.
Aku sangat menghargai ibuku sebagai orang tua tunggal. Jadi sebagai bentuk bantuan aku lebih suka menganggur dulu pada saat krisis seperti ini, dan... sedikit kesibukan sebagai penyiar di salah satu radio lokal saat sore hari, sedangkan pada pagi hari aku membantu sekolah TK yang satu-satunya ada di desaku. Menurutku ini semua merupakan rencana Tuhan yang sempurna. Aku masih memiliki kesibukan, meskipun dari kesibukan tersebut entah mengapa aku tak pernah memikirkan imbalan. Menemani adik-adik yang baru belajar membaca maupun mengoceh sendirian adalah hiburan bagiku. Pernah aku mencoba melamar kerja di kota, namun entah mengapa selalu gagal. Banyak teman-teman sebayaku di Ricipan sudah menikah semua. Dari 30 temanku SD hanya tinggal 2 orang saja yang masih melanjutkan SMA, 80% sudah menikah sedangkan sisanya memilih merantau atau bekerja. Satu tahun menjalani semua ini membuat aku sedikit banyak belajar mengenai siapakah dunia yang aku hadapi.
                Malam tiba. Sunyi dan tenang. Di depanku duduk 2 orang anak sekitar umur 8 tahun. Mereka ini keponakan-keponakanku. Setiap malam aku menemani mereka belajar. Hitung-hitung mengisi waktu malam. Hahaa.. aku tersenyum dalam hati.
                “Eh, mb Lintang senyum-senyum sendiri.” Kata Putri sambil mencolek-colek Rindah. “..Kenapa, Mb? “ lanjutnya. Mereka berdua menertawaiku.
                “Tenang saja! Mbak merasa malam ini kaliyan berdua hebat. Pinter-pinter.” Ujarku.
                Seluruh hariku selama satu tahun ini bertemakan ‘mengisi waktu’. Bagus juga. Tahun selanjutnya bertema apa ya?..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar