ariririta.com

Senin, 11 Juni 2012

SINAR, BINTANG, DAN LANGIT part2


Dua
BULAN DI BALIK AWAN

Bulan sejak kapan kamu ada?
bependar-pendar nan jauh di sana
memandangku malu-malu
Bulan mengapa termenung
tersembunyi di balik mendung?
suarakan hatimu 
bagi mereka yang menunggu

Dan inilah jawabanku.

                Buuk...                                                                                                                                                                             
“auuh..” erangku. Aku baru saja mendarat di lantai. Dan di depanku berdiri sesosok cowok. Beruntung sekali hari ini aku. Pertemuan dengan adegan mirip di sinetron Indonesia. Buru-buru aku berdiri, minta maaf dan beranjak pergi sebelum mendengar jawabannya.
 Aku tidak berdiri di depan kelas lagi untuk menemani adik-adik kecil atau ngoceh-ngoceh di depan mic atau duduk tenang bersama kedua keponakanku. Aku memulai tema baru dalam hidupku. Pagi ini. Sekarang aku berada di depan sebuah pintu. Aku harus mengetuk pintu itu kemudian masuk dan duduk di dalamnya. Hatiku benar-benar bergetar hebat, tanganku tak mampu mengetuk pintu itu sampai-sampai aku juga mulai merasakan ngilu pada lututku.
                Tok.. tok.. tok
                Akhirnya berbunyi juga pintu itu. Tapi bukan aku yang mengetuk.. aku menemui sesosok cowok itu lagi ketika aku menoleh ke belakang. Dia langsung saja masuk mendahului aku. Perlakuan yang baik terhadap mahasiswi baru-pikirku. Menyusul di belakangnya, aku mulai masuk ruangan itu dan langsung duduk di bangku yang kosong. Bagus! Hampir semua bangku yang berada di deret depan kosong. Inilah bedanya dengan masa SMA. Tidak ada lagi perkenalan resmi dari guru.. oups! Maksudku tidak ada perkenalan sama sekali dari dosen. Bahkan aku ragu jika bapak dosen dengan perut besar itu tahu kalau aku mahasiswa baru.
                Hari ini aku mengalami kesulitan yang luar biasa. Pertama aku langsung di sambut oleh tabrakan sinetronis, dan yang menabrakku ternyata berada di kelas yang sama denganku. Selanjutnya, bapak Dosen besar tadi menegurku karena aku terlambat meskipun pada akhirnya beliau menerima alasanku bahwa aku mahasiswa baru. Beliau langsung menjadi dosen favoritku.
                Selama di kelas aku hanya duduk saja tanpa berani memandang berkeliling untuk mensurvei wajah teman-temanku. Tempat duduk paling depan tidak mendukungku untuk melakukannya. Tapi aku mendapat salam selamat datang hampir dari 80% temanku. Mungkin aku akan cocok dengan Wati dan Steph. Kebetulan kami sama-sama berasal dari Jawa. Aku tidak membeda-bedakan teman. Dari Sabang sampai Merauke berada di sini. Suatu kehormatan aku bisa berjumpa mereka semua. Inilah nasib anak pendatang, tidak berpartisipasi dalam trainning. Mekanisme tempatku kuliah masih mirip dengan lembaga pendidikan sekolah. Masuk pagi dan istirahat. Heeem ternyata hari pertama lumayan kok.. hampir sempurna!
                Oh ya.. kenapa cowok penabrak tadi selalu lengket dengan cewek berambut panjang itu ya? Mereka pacaran? jangan-jangan pengasuhnya Hahaha.. Lintang, biarlah! Dia adalah salah 1 dari 20% teman yang tidak menyapaku. Ehm.. Tuhan met malam. Aku membuka jedela kamar kostku, kulihat bulan masih bersembunyi di balik awan. Salam ya untuk mereka yang aku sayang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar